Sabtu, 21 Juni 2008

REHAT SEJENAK.........Sarapan?? duwh...


Sendirian.....berlokasi di studio 1 Mujahidin FM Islamic centre lantai 2. Saat ini aku sedang bersendirian ditemani oleh ac yang dingin menusuk tulang...dengan lantunan ayat-ayat Allah Q.S al-Baqarah....

Menggantikan sejenak saja rekan OP Hana yang lagi sarapan di luar ....(Ini mah bukan sarapan, Pak! Udah jam setengah sebelas siang gini. Dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah BRUNCH, Breakfast plus Lunch..)

Baru aja hp berbunyi, jeng Mumun. Temen baruku ini curhat bahwa dia belum sarapan dan minta di doain agar dy mampu ampe siang beraktivitas..( Subhanallah...)..kasian banget. Buat teman-teman yang belum sarapan, jangan sepelekan urusan sarapan, karena ternyata sarapan juga akan membantu kecerdasan kita.

Once again, jangan sampai gak sarapan! Kita analogikan saja sarapan sebagai motor penggerak. Tanpanya bagaimana mungkin kita bisa beraktivitas..Sarapan kudu wajib bagi kita yang punya aktivitas tinggi. Mengingat pula, kadar gula dalam tubuh kita ini sangat rendah di pagi hari.

Apa aja sih yang membuat kita malas sarapan? Dari diri mimi pribadi, alasannya antara lain adalah kurang waktu, atau bosan dengan sarapan yang itu-itu aja, sampai ke sarapan yang ngga bisa masuk kalo pagi-pagi. Bikin mual dan mules.

Padahal, sarapan bukan sekedar pengganjal perut, tapi juga memberikan energi agar kita bisa
beraktivitas dengan baik, otak bekerja lebih optimal, dan tidak cepat mengantuk.

Ternyata pengaruh sarapan kita pada otak cukup besar, sodara-sodara! Otak, jelas merupakan anugrah tertinggi yang diberikan Allah kepada manusia. Letak kecerdasan manusia juga berada di dalam organ ini, untuk itu pemberian makanan yang baik dan teratur akan berpengaruh dengan fungsi dan kerja otak.

Lebih-lebih di pagi hari, setelah semalaman manusia istirahat. Pagi hari adalah waktu terbaik untuk menyediakan makanan bagi otak kita, salah satunya melalui sarapan yang teratur dan bergizi.

Seorang ilmuwan mengatakan sarapan pagi merupakan makanan khusus untuk otak, hal ini didukung dari sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa sarapan berhubungan erat dengan kecerdasan mental, dalam artian, sarapan memberikan nilai positif tarhadap aktivitas otak, otak menjadi lebih cerdas, peka dan lebih mudah untuk berkonsentrasi. Hal ini secara tidak langsung akan mendatangkan pengaruh positif terhadap diri kita dalam beraktivitas, baik di sekolah ataupun di tempat kerja.

Sarapan yang baik harus banyak mengandung karbohidrat, karena kandungan karbohidrat yang kita konsumsi pada pagi hari, akan merangsang glukosa dan mikro nutrien dalam otak. Karena karbohidrat merupakan salah satu nutrien yang menghasilkan energi yang berfungsi untuk memacu otak.

Karbohidrat sendiri dibagi dalam dua jenis, yaitu karbohidrat simpleks dan karbohidrat kompleks. Dalam hal kecerdasan otak, yang perlu dikonsumsi adalah karbohidrat kompleks. Karbohidrat komplek sendiri adalah karbohidrat yang mengandung serat dan vitamin yang bisa dicerna dan diserap perlahan-lahan, sehingga kadar gula dalam tubuh naik secara perlahan. Karbohidrat jenis ini banyak dijumpai pada nasi, roti, jagung, kentang dan pasta.

Makanan berkarbohidrat kompleks mampu memberikan nilai lebih kepada fungsi otak, yaitu membantu memusatkan pikiran untuk belajar dan memudahkan penyerapan pelajaran. Bisa dibilang tingkat konsentrasi dan penyerapan lebih baik dibanding individu yang tidak sarapan.

Sebuah survai yang dilakukan pada anak-anak dan remaja menyebutkan anak yang sarapan dengan makanan yang kaya akan karbohidrat komplek, memiliki performa, lebih bisa mencurahkan perhatiannya terhadap pelajaran, perilaku yang lebih positif, ceria, kooperatif, gampang berteman dan dapat menyelesaikan masalah dengan baik. Sedangkan bagi anak yang tidak sarapan, tidak dapat berpikir dengan baik dan selalu kelihatan malas.

Betapa pentingnya sarapan bagi tubuh, terlebih lagi bagi kerja otak kita, untuk itu, awalilah mulai sekarang aktivitas seharian kita dengan sarapan yang baik. Pastikan sarapan tidak kita tinggalkan dengan mengikuti aturan yang benar, cukup dan tidak berlebihan.

Sabtu, 07 Juni 2008

Sikap Adil kepada FPI




Ahad 1 Juni 2008, terjadi insiden kekerasan oleh sebagian aktivis Front Pembela Islam (FPI) terhadap sekelompok massa yang menamakan diri sebagai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). TV-TV menayangkan tindakan kekerasan para aktivis FPI terhadap massa AKKBB yang sedang menggelar aksi

Mendukung Ahmadiyyah. Di sana ada aksi pukulan, tendangan, cacian, pengrusakan fasilitas sound system, kaca mobil, dll. Pendek kata, kita semua sangat prihatin melihatnya.

Tanpa menunggu waktu lagi, SBY langsung merespon. Melalui jubir kepresidenan, Andi Malarangeng, SBY mengecam aksi anarkhis aktifis FPI di Monas.

Tanggal 2 Juni SBY berbicara langsung, disiarkan TV-TV, bahwa dia menuntut ada pengusutan tuntas, dan para pelaku kekerasan ditindak secara hukum. SBY juga menekankan, "Negara kita negara hukum." Gayung bersambut, JK berjanji akan menindak tegas pelaku kekerasan di Monas.

MUI menyayangkan terjadinya kasus kekerasan di Monas itu (Republika, 2 Juni 2008). Sementara Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyyah, setelah pertemuan dengan SBY, dia mengecam FPI. Meskipun Din tidak menuntut FPI dibubarkan, dia mendukung langkah tersebut, jika Pemerintah ingin membubarkan FPI (www.jawapos.co.id, 2 Juni 2008).

Arbi Sanit, pakar politik UI dan anggota PBHI, menuntut FPI dibubarkan karena mengancam kehidupan bersama (Republika, 3 Juni 2008). Sekjen GP Anshor, Malik Haramain, mengancam akan membubarkan FPI, Kalau pemerintah tidak tegas.Di Cirebon markas FPI didatangi sekelompok pemuda dan sempat terjadi keributan kecil, hingga plang FPI dirobohkan oleh pemuda-pemuda tersebut (berita siang GlobalTV, 2 Juni 2008).

Bukan hanya kali ini FPI diancam akan dibubarkan.Sebelumnya juga bergaung desakan agar ormas Islam yang terkenal dengan aksi-aksi nahyi munkar ini dibubarkan saja. Pertanyaannya, layakkah kita menghukum FPI sedemikian keras (misalnya harus sampai dibubarkan) pasca kasus kekerasan di Monas itu? Masyarakat harus berani melihat masalahnya secara jernih, tidak ikut-ikutan emosi.

Saya melihat ada beberapa poin penting yang dilupakan dalam kasus di atas, padahal semua itu seharusnya dilihat secara cermat, sehingga kita bisa mengetahui apakah FPI telah berbuat zhalim atau tidak?

Pertama, menurut Kapolres Jakarta Pusat, Komisaris Besar Heru Winarko, beliau menyesalkan massa AKKBB. Pasalnya, mereka mulanya hanya berencana berdemonstrasi di Bundaran HI, tetapi ternyata AKKBB beraksi sampai ke Monas. "Ternyata, mereka menuju Monas juga, " kata Kombes Heru Winarko (Republika, 2 Juni 2008. Artikel berjudul, "Bentrokan Akibat Pemerintah Lamban, " hal. 1).

Dari keterangan di atas, jelas AKKBB telah melanggar hukum. Mereka melampaui batas izin aksi yang diajukan ke pihak kepolisian. Jika mereka beraksi sesuai izin semula, bisa jadi kasus tersebut tidak perlu terjadi.

Kedua, dalam tayangan dokumentasi kasus Monas Di GlobalTV siang hari, di sana diperlihatkan petikan kejadian-kejadian di Monas tersebut. Pada mulanya, para pemuda FPI hanya kumpul-kumpul di salah satu lokasi Monas sambil mendengarkan orasi pimpinan aksi yang membawa TOA. Mereka kadang bertakbir dan juga membaca kalimat "Laa ilaha illa Allah."

Artinya, mereka tidak memiliki agenda untuk menyerang siapapun. Aksi mereka pada awalnya tertib, tidak anarkhis, dan damai. Mulai timbul masalah ketika AKKBB melakukan aksi dan orasi dengan sound system kuat, tidak jauh dari lokasi para aktivis FPI. Satu sisi, AKKBB mendukung Ahmadiyyah, di sisi lain mereka melakukan aksi di dekat para pemuda FPI. Anda bisa bayangkan, meneriakkan dukungan keras-keras untuk Ahmadiyyah di dekat telinga aktivis FPI. Itu bisa dianggap oleh mereka sebagai nantangin perang. Saya melihat, para pemuda FPI lebih tepat disebut terprovokasi oleh aksi massa AKKBB. Mereka tidak ada niatan sejak awal untuk berbuat kekerasan. Semula mereka beraksi dengan tertib.

Ketua MK, Jimly Asshidiqqie, berkomentar, "AKKBB harus mawas diri, menghentikan provokasi, dan kemudian jajaran NU, Muhammadiyyah, sampai ke daerah (juga harus mawas diri -pen). Begitu juga dengan FPI, tidak usah terprovokasi, ini bahaya benar." (Republika, 3 Juni 2008).

Ketiga, kalau melihat kejadian kekerasan itu, di sana terlihat dengan jelas, bahwa komando aksi FPI di Monas berusaha keras menertibkan para aktivisnya. Mereka berusaha mencegah pemukulan, tendangan, menenangkan aktivis-aktivisnya. Terlihat berkali-kali sebagian pemuda aktivis FPI mencegah tindak kekerasan itu, meskipun mereka tidak mampu mencegah secara keseluruhan.

Jika di sana terjadi kasus-kasus pemukulan, tendangan, cacian, atau perusakan fasilitas, apakah lalu mata kita buta untuk melihat bahwa di sana juga ada upaya-upaya mendamaikan hati para pemuda yang sudah terbakar emosinya itu? Jika tidak ada upaya mendamaikan, saya yakin akan jatuh korban sangat banyak. Minimnya korban dalam kasus tersebut, menunjukkan di sana ada kontrol, meskipun tidak mampu mencegah aksi-aksi individu yang terlanjur terjadi.

Selain kita menyesalkan kasus kekerasan tersebut, kita harus jujur mengakui, bahwa para pemuda-pemuda FPI juga berusaha mencegah kekerasan itu sekuat tenaga. Semua ini harus dihargai. Pihak kepolisian sering berdalih, "Petugas polisi kan manusia juga." Polisi

bisa khilaf, melakukan kekerasan di luar kontrol komando. Begitu pula dengan kasus para pemuda FPI itu. Secara komando tidak ada instruksi kekerasan, tetapi di lapangan terjadi, karena terbakar emosi.

Keempat, jika sebagian pelaku kekerasan di Monas ditindak secara hukum, tidak berarti lembaga FPI-nya harus dibubarkan. Itu berbeda konteksnya. Tindakan kekerasan di Monas dilakukan oleh –sebut saja- oknum aktivis FPI. Pelanggaran oleh oknum, tidak bisa di-gebyah uyah untuk menghancurkan sistem sebuah organisasi.

Contoh, kasus kekerasan oleh oknum polisi di Universitas Nasional (Unas) Jakarta. Ia dianggap kasus kekerasan oleh oknum polisi, sehingga tidak perlu ada tuntutan untuk membubarkan lembaga Polri.

Begitu pula, kalau ada kasus kekerasan oleh sebagian warga Muhammadiyyah -misalnya-hal itu tidak perlu dikembangkan menjadi "bola liar" untuk membubarkan istitusi Muhammadiyyah. Kasus kekerasan oleh oknum tetap dialamatkan kepada oknum, bukan kepada institusi.

Termasuk, ketika Munarman dijadikan salah satu dari lima tersangka kasus di atas. Dia tetap disebut sebagai oknum, bukan sebagai lembaga FPI secara umum. Kasus kekerasan di Monas adalah individual case, bukan organization case. Kalau setiap kasus individu bisa menjadi dalih untuk membubarkan sebuah organisasi, maka sikap ingkar janji SBY yang katanya tidak akan menaikkan harga BBM sampai tahun 2009, bisa dijadikan dalih untuk membubarkan kabinetnya.

Kelima, ketika SBY dengan lantang mengecam anarkhisme di Monas atas nama "negara hukum", dia telah menggunakan dalil yang benar. Tetapi seharusnya dia bersikap adil, tidak berat sebelah.Bukankah penanganan kasus Ahmadiyyah selama ini sudah mengikuti prosedur hukum? Di sana ada Fatwa MUI, Fatwa Rabithah Alam Islamy, rekomendasi Depertemen Agama RI, rekomendasi Bakorpakem, bahkan rekomendasi kepala-kepala daerah tertentu. Apa semua itu tidak memenuhi syarat "negara hukum"?

Mengapa SKB soal Ahmadiyyah sedemikian lambatnya? Bukankah hukum berlaku bagi FPI, juga bagi Ahmadiyyah? Ketika seluruh rekomendasi tentang kesesatan Ahmadiyyah itu dikalahkan oleh pandangan seorang Adnan Buyung Nasution, selaku anggota Wantimpres, apakah hal itu juga memenuhi keadilan hukum? Apakah dalam fungsi hukum nasional, posisi Wantimpres bisa mengintervensi kebijakan legal negara? Mengapa SBY tidak mengecam AKKBB yang melakukan aksi terbuka, padahal kelompok Ahmadiyyah sudah disepakati sesat oleh Ummat Islam Indonesia dan oleh institusi birokrasi di bawah Kabinet SBY?

Jadi kesan yang muncul, istilah "negara hukum" itu hanya dipakai untuk mendesak kelompok tertentu. Adapun untuk kelompok lain, konsep ketegasan hukum bisa ditafsirkan macam-macam. Seorang Adnan Buyung Nasution, dia bisa disebut pakar hukum ketika melecehkan ormas-ormas Islam dalam kasus Ahmadiyyah. Tetapi dia akan disebut sebagai "profesional hukum" ketika membela obligor BLBI, Syamsul Nursalim. Hukum akhirnya hanya sekedar "kuda tunggangan" belaka.

Keenam, kita merasa kecewa, kesal, marah, benci, mual, emosi, mengutuk, dst. ketika melihat aktivis-aktivis FPI memukuli peserta aksi AKKBB. "Nurani kita tersentuh oleh duka lara bak teriris sembilu, " begitulah kata puitisnya. Pokoknya, top tenan dalam soal empati kekerasan ini. Tetapi pernahkan kita merasa empati dengan Ummat Islam ketika Ahmadiyyah terus-menerus menodai ajaran Islam? Pernahkah kita terketuk hati ketika ada yang mengaku Nabi setelah Rasulullah Saw., dia mendakwakan diri sebagai Al-Masih, sebagai Al-Mahdi, dan mengajarkan kitab At Tadzkirah sebagai kitab sucinya? Pernahkah kita marah ketika ajaran-ajaran Islam dilecehkan oleh orang-orang itu?

Kalau massa AKKBB itu merasa sakit, kecewa, marah, atau sedih, apalah artinya penderitaan mereka dibandingkan penderitaan yang menimpa Rasulullah Saw. dan para Shahabat ketika mendakwahkan Islam? Dan sekarang, ajaran Nabi yang murni dan suci itu, demikian mudahnya dilecehkan oleh kaum Ahmadiy (pengikut Ahmadiyyah). Sebagai seorang Muslim, apakah kita tidak berempati kepada penderitaan Rasulullah dan Shahabat ketika mereka berjuang dan berkorban, sehingga atas hidayah Allah saat ini kita menjadi Muslim?

Kemurnian ajaran Islam itulah yang sekarang dilecehkan oleh kaum Ahmadiyyah, pengikut Mirza Ghulam Ahmad laknatullah 'alaih. Bukan berarti sikap keras atau anarkhis kepada mereka bisa dibenarkan, sebab bagaimanapun tindakan negara lebih baik, daripada tindakan rakyatnya sendiri. Tetapi janganlah karena empati kebablasan kepada kaum Ahmadiy membuat kita lupa penderitaan Rasulullah dan Shahabat ketika mulai mendakwahkan Islam di masa lalu.

Secara umum, tindak kekerasan tetap salah, siapapun pelakunya. Tetapi dalam menyikapi tindak tersebut kita harus melihat secara jernih dan adil. Jangan karena sentimen, atau sudah "kadung kesal" dengan FPI, lalu kita berbuat zhalim. Bukankah Allah Ta'ala tetap memerintahkan agar Kita selalu berbuat adil. "Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum, membuat kalian berbuat tidak adil. Bersikap adil-lah, sebab adil itu lebih dekat kepada taqwa." (Al-Maa'idah: 8). Wallahu a'lam bisshawaab. (eramuslim)

(Abu Muhammad Waskito)

Kamis, 05 Juni 2008

Muslimah Penggenggam Bara Api..


Wanita terhormat bukanlah mereka yang dibebaskan oleh orang-orang yang berkoar-koar menyerukan pembebasan para wanita dari agama yang mengungkung mereka
Wanita terhormat adalah mereka yang mencintai Tuhan-Nya, dengan mencampakkan kesenangan dunia yang jauh dari Rahmat Tuhan mereka...

2 Mei yang lalu, seorang sahabat dengan gerakan secepat kilat dan segera berlalu meletakkan sebuah buku mungil berwarna pink dan kuning di atas meja. Awalnya aku bingung, maksudnya apa ini...Beneran belum terlalu ngerti yang dia maksudkan. Toh hanya sepatah kata yang ia katakan sambil segera berlalu keluar ruangan..." Maaf Mi, ngga sempat di bungkus...." "Apaan niy? To naskah siaran atau gimana maksutnya...?" teriakku merasa ngga mudeng dan butuh penjelasan lanjut. Akhirnya aku mudeng juga, buku itu dihadiahkan untukku.

KEMULIAAN MUSLIMAH PENGGENGGAM BARA API yang di tulis DR. Muhammad bin 'Abdirrahman al-'Uraifi ini baru hari ini selesai kubaca....Padahal isinya hanyalah sekitar 70 halaman. Bukan karena aku tak sempat atau tak mau membacanya. Ternyata, pada saat aku ke kampus hari itu, anak-anak udah pada "fallin' " dengan buku ini. akhirnya akupun luluh begitu mereka minta untuk meminjam terlebih dahulu...Yah, kebetulan salah satunya adalah seorang temanku yang baru beberapa hari pake jilbab. Jadi tentunya dia juga butuh asupan bacaan kemuslimatan...


Balik lagi ke buku tadi....awalnya teman-teman yang sudah membaca menunjukkan apresiasi mereka pada buku terbitan media tarbiyah tersebut. "Gila, Mi...serasa Insyaf lagi..bagus banget.." "Aku yang dulunya males mau baca-baca buku Islam lagi, plus apriori, berasa dapet siraman air to nyiramin kalbuku yang kering ........."


Penasaran juga. Awalnya aku ngga terlalu sesumringah itu. Toh aku juga sudah punya buku serupa yang jauh lebih tebel n lengkap, pikirku. Jadi aku bisa nebak-nebaklah sedikit, secara umum content buku tsb. Tapi yeah...jadi penasaran.
Akhirnya setelah buku itu di tanganku , tanpa terasa selembar demi selembar kulalap habis. Dengan penuh kenikmatan. Tuk sementara kuabaikan novel The Ghost Writer, Heretic dan buku Pejuang Chechnya yang bener-bener ingin kuselesaikan.

Buku KEMULIAAN MUSLIMAH PENGGENGGAM BARA API kembali menyiram hatiku yang mulai ditumbuhi mawar berduri. Rasanya tak ada yang jauh lebih indah dibandingkan sebuah jamuan Syurga bagi para Wanita Syurga yang senantiasa bermahkotakan hijabnya dan menjaga tindak-tanduknya.


Wahai permata yang tersimpan
Mutiara yang terlindungi,
Wahai pendidik generasi,
Pencetak orang-orang besar,
Nasehat terdalamku ini kupersembahkan untukmu, Kubalut ia dengan ruhku, Kukeluarkan nasehat dan arahan ini dengan tulus, Kupinta Allah Ta'ala agar menjaga dan melindungimu dari segala kebenaran Menjadikanmu terberkahi dalam jiwa, keluarga dan anakmu
( DR. Muhammad bin 'Abdirrahman al-'Uraifi )

Subhanallah...........Maha suci Allah, yang telah menciptakan makhluk seperti kami.

Islam yang menghormati kami

Dan Islamlah yang menjaga kami


Begitu tinggi penghargaan Islam terhadap kami


Sampai-sampai karenanya begitu banyak terjadi peperangan, kepala menjadi remuk..


Demi menjaga kehormatan kami....

Jumat, 16 Mei 2008

Little Princess in dream....


Hari ini kayak biasa, penuh dengan rutinitas yang melelahkan...

Kalau boleh meminta, pengen banget jadi Little Princess lagi,
Bisa jalan-jalan kemana-mana, jajan permen, nonton Tivi..
Baca novel sebanyak-banyaknya dengan sekotak biskuit keju dan coklat panas...

Atau main di halaman rumah yang dipenuhi dengan bunga-bunga
Mengecek adakah anjing-anjing tetangga yang berani memasuki pekarangan rumahku yang bersih dan sejuk
Jikapun ada aku akan mengusirnya!
Agar tak menakuti kucing-kucing kecilku yang asyik berjemur dan merebah di halaman yang nyaman

Ah..bukan masanya lagi.............
tapi aku kangen banget dengan masa itu....Hiks.....




Jumat, 09 Mei 2008

The little girl without her cat


In these starry sky

Freeze over the bitter dry

The little girl grabs over the green trees

Seems she flies like a ballerina with a pink kisses


Find find...find him..


Is my cat happy now?

Or he runs like a little arrow

Or speaks with the God to be sent him a big rainbow.....


Oh my kitty kitty lovely

Don't leave me in my shocking freaky



( May 09th 2008, inspired by my 3 Little Cats : Rajoo, Fizi and Mei mei. Semoga kalian sehat dan cepat besar, ya sayang...... )





Rabu, 07 Mei 2008

Kesayanganku...



Memandangmu adalah sebuah keajaiban..



Mencintaimu adalah sebuah kebanggaan..



Karena kau kesayanganku...



Kearifan untuk tidak menyentuhmu lagi




Membuncahkan kerinduan..







Ah..kau memang kesayangan semua orang..

Selasa, 06 Mei 2008

Ada sesuatu di balik angka 23.....



1 Mei sudah berlalu. Kesedihanpun tak ada lagi. Hari ini aku kembali bahagia. Karena kesedihan sudah berlalu pergi.

Yeah…memang tak seperti biasanya tahun ini aku cukup terkaget-kaget dengan hari jadiku. Sejak aku beranjak dari 19 tahun menuju 20 tahun ( kira-kira 3 tahun lalu), aku sudah cukup “self-awareness” untuk segera mentarbiyah diri bahwasanya aku sudah menuju gerbang 20. Dan tuntutan kematangan emosional, spiritual dan intelektualitaskupun semakin menjadi-jadi. Bahwasanya harus ada perubahan revolusioner yang tidak temporer tuk segera diberlakukan.



Dan itu rasanya baru kemarin. Padahal sudah terlewatkan dalam hitungan 3 tahun. 1 Mei 2008 ini aku dibombardir puluhan sms dari teman-temanku, yang semakin membuka pikiran ini bahwa memang aku sudah 23! 23 tahun……..

4 buah telepon spesial miladku (ulang tahunku) juga aku terima. 2 telpon lokal dan dua lainnya interlokal (he he). Telepon interlokal pertama kuterima dari Pekanbaru. A’ henda yang asli Cirebon memang sedang bertugas di daerah Sumatera. Iseng-iseng dia bertanya , “Ultah yang keberapa, neng?” tanyanya sambil tertawa. Entah mengapa setiap ada yang bertanya demikian, hatiku berubah menjadi tidak bahagia. 23 tahun sepertinya adalah angka yang cukup mengagetkanku untuk kali ini.
Tak lama kemudian, Bang David yang sekarang masih berada di Kalteng juga mengucapkan selamat atas hari jadiku disaat menjelang dzuhur. Saat kukatakan bahwa aku merasa tidak bahagia dengan milad ku kali ini, sebuah pernyataannya membuatku tercenung,
“Menurut Bang Dave, mungkin Mimi merasa ada sesuatu yang belum tercapai di usia Mimi yang ke-23 ini....”
Ini dia, cenungku. Ada yang belum tercapai dari targetan hidup bawah sadarku..Bahkan bukan hanya sekedar "ada". Kupertajam lagi , "sangat banyak"!

Memang awalnya aku jujur, tidak bahagia dengan hari jadiku. Namun inilah realita yang ada. Bahwa ada banyak hal yang masih harus kukejar untuk duniaku. Terlebih-lebih untuk bekal akhirat yang kekal itu. Aku tidak tahu, jatah berapa waktu lagi yang masih Allah bonuskan untukku agar membayar kesalahan-kesalahanku di masa lalu dan menggantinya dengan yang lebih baik di sisa umur yang mungkin saja sudah terbatas ini.

Semoga Allah kabulkan. Kuingin bermanfaat di sisa umurku. Dan menjumpai Khusnul khotimah di titik akhirnya. Itu saja. Amien, Allahuma amien.

Selasa, 22 April 2008

Mihrab malam



Wahai penghuni langit yang jauh............
Tolong sibakkan tabir putih ini
Ada sapaan lembut yang harus ku rengkuh
Sebagai penepatan ikrar abadi

Manusia malam
Ada yang tak akan pernah mengingkari sumpahnya
Sebagai jawaban tergoresnya takdir
Yang masih aku masuki lorong gelapnya
Hingga terang di balik sayapnya

Berlutut dan sujud
Mengunjungi mihrab malam..................


April 2008

Kamis, 17 April 2008

Dunia Krisis Pangan = Perang


Setidaknya itulah yang dikatakan Mas Iwan di program pagi yang ia bawakan setiap pagi, di Apa Kabar Indonesia TV One (Aih...dua kali nih aku nge-promosiinnya..)

Sebenernya dia sendiri mengutip apa yang dilansir oleh FAO ; Jika masalah Krisis Pangan Dunia ini tidak tertangani, bisa jadi akan memunculkan peperangan.

Nah, hadir di acara ini Ketua Badan ketahanan Pangan, Bapak Kaman Nainggolan dan Anggota Dewan Bapak Yudi Christnandy.

Menurut Bapak Kaman, untuk Indonesia sendiri tidak perlu dikhawatirkan masalah pangan. Karena menurutnya, stok pangan kita mencukupi. Bahkan kita akan meng-ekspor! *haih...*
Suplai cukup, bahkan secara statistik juga aman!, ungkap beliau dengan penuh keyakinan.

Lantas, Pak Yudipun menegaskan kepada beliau, bahwasanya masalahnya bukanlah pada stok dan data statistik yang "aman-aman saja" itu. Tapi permasalahannya disini ada di pendapatan rakyat Indonesia yang tidak berubah! Sementara harga-harga melambung tinggi.... Bahkan tak heran jika media-media juga setiap harinya mengekspos banyaknya rakyat yang frustasi bahkan "meninggal secara massal" dengan cara ada diantara mereka bunuh diri bersama anak-anaknya.

"Pemerintah bisa saja surplus, tapi rakyat sulit sekali memperoleh bahan pangan karena mereka tidak mampu membeli!" Tandasnya lagi.

Bayangkan saja, di Indonesia sendiri ada sekitar 37 rakyat miskin. Kalau tidak juga mendapat bantuan dari pemerintah, jumlah ini bisa meningkat menjadi 50,8 Juta (22% dari penduduk INA).

Jadi jika tidak di handle dengan tepat, krisis ini akan menimbulkan gabungan antara krisis politik dan krisis ekonomi. Sehingga menghasilkan ; anarkisme.

Baiklah teman-teman, kita lihat saja, jika memang tidak ada segelintir dari kita yang mau 'bergerak menjadi solusi'...bisa jadi apa yang diramalkan FAO akan benar adanya.

Akan ada perang, karena persoalan pangan....Wallahu'alam...........

The Sick Rose


O, Rose, thou are sick!
The invisible worm
That flies in the night,
In howling storm


Has found out thy bed
Of crimson joy
And his dark secret love
Does thy life destroy


(William Blake, 1757-1827)

Selasa, 15 April 2008

Harga kertas Naik!


Pagi tadi, mulai pukul 7 pagi aku memulai hobi baruku untuk menongkrongi TV one, tepatnya lagi di program acara Apa Kabar Indonesia? Disana hadir seorang narasumber yang aku ngga terlalu menyimak siapa namanya. Ternyata tema yang diangkat adalah mengenai naiknya harga kertas sekitar 15%-20%! Wah, ini persentase yang cukup besar! Tak pelak lagi, digaris bawahi disini bahwa para penerbit sedang berada dalam masalah besar. Bahkan bisa jadi, diramalkan para perusahaan koran bisa sampai menutup usahanya.

Wah, masa’ seh??

Ternyata, dari perbincangan hangat tersebut, problema ini terjadi bukanlah dikarenakan stok kertas yang tidak memadai. Justru stok sangat banyak (bahkan sampai dieskpor). Namun yang menjadi masalah adalah, harganya melangit!

Pengaruhnya tidak hanya untuk eksistensi para perusahaan Koran atau penerbit. Tentunya pengaruh naiknya harga kertas ini akan menghantam para konsumen, yang setiap hari membutuhkan Koran untuk menilik berita-berita teraktual dan untuk memperkaya wawasan dan kejiwaan.

Lebih jauh lagi, bagaimana nasib anak-anak didik yang sebentar lagi akan memasuki tahun ajaran baru?

Kalau kita membandingkan dengan beberapa Negara, ternyata jika dibandingkan, betapa masih “lux”-nya harga koran versi Indonesia. Bayangkan saja, di Inggris, untuk Koran yang seharga dengan harga di Indonesia, jumlahnya lebih tebal dibandingkan Koran Indonesia yang tipis. Bahkan, di Amerika Serikat, seorang buruh yang bekerja selama 2,5 jam saja, gajinya itu sudah cukup untuk berlangganan Koran! Bandingkan dengan Indonesia. Apakah buruh kita yang bekerja selama 2,5 jam sanggup untuk berlangganan Koran? Boro-boro….beli nasi aja susah.

Ini berarti Koran di Indonesia memang masih tergolong barang mewah!

Kalau sudah begini, rugilah sebuah bangsa yang tidak bisa mendulang ilmu dan membuana cakrawala, jika untuk membaca saja mahal harganya!

So, tuk pemerintah, saya setuju dengan yang diungkapkan oleh salah seorang presenter Apa kabar Indonesia ; semoga PPn-nya bisa dihapuskan……

Ku hanya bisa mengaminkan dari sudut-sudut ruangan televisiku.............

Minggu, 13 April 2008

AS YOU LIKE IT


Blow, blow, thou winter wind

Thou art not so unkind

As man’s ingratitude

Thy tooth art not so keen,

Because thou art not seen,

Although thy breath be rude

Heigh-ho! Sing heigh ho! Unto the green holly :

Most friendship is feigning, most loving mere folly

Then heigh-ho, the holly!

This life is most jolly!

Freeze, freeze, thou bitter sky,

That dost not bite so nigh

As benefits forgot:

Though thou the waters wrap,

Thy sting is not sharp

As friend remember not

Heigh-ho! Sing heigh-ho! Unto the green holly :

Most friendship is feigning, most loving mere folly

Then heigh-ho, the holly!

This life is most jolly!



Poet: William Shakespeare

Jumat, 11 April 2008

Bahagia....


Wah, kiki (Blackie, kucing hitam yang numpang melahirkan di rumahku sebanyak 3 generasi) ini kembali menghebohkan seisi rumah dengan kembali membuat gebrakan baru ; melahirkan di gudang lantai 2, dengan sudut ruangan yang paling susah dijangkau, super gelap, dan dipenuhi dengan aliran listrik….Walhasil keberadaan 3 ekor anak kucing yang masih imut-imut itu susah untuk diidentifikasi apakah ia laki-laki, perempuan, corak warnaya apa, hobinya apa, seneng makan apa, dll dsb…belum lagi suara pekikan mereka yang terkadang mengganggu aktivitas keluarga kami yang bernaung di lantai 1. Cukup mengganggu…..

Tapi jumat pagi kemarin, dengan bermodalkan kesabaran dan kemarahan pada Kiki (karena tega-teganya menyembunyikan anak-anaknya di tempat yang tidak layak!), akhirnya Abangku berinisiatif melaksanakan aksi penyelamatan. Secara, salah satu dari anak kucingku itu ada yang terjatuh dan terjepit di dinding. Kalo mati kan bahaya..!

Akhirnya dengan perjuangan yang panjang dan pelik (males mo nulisinnya..pokoknya pelik dah…ampe-ampe harus ada bagian dinding yang dijebol..). Akhirnya 3 ekor kucing itu terselamatkan. Suara mereka ; nyaring banget..persis suara tuannya…hehehehe

Pokoknya sekarang semenjak kehadiran 3 ekor kucing baru tersebut, suasana hatiku berubah bahagia..lumayan, buat ngilangin stress….Bahkan tadi malem sempet males kuliah secara hujan lebat di tambah petir yang menggelegar (padahal matkul favoritku, Literary Appreciation…)…Akhirnya kuputuskan untuk bermain dengan 3 jagoan baruku…(Lum ada namanya. Hanya saja yang suaranya paling nyaring kunamai : Fizi)….

Biarin deh…yang penting bahagia… :p

“Raih kemenangan dengan 2 kunci ganda : Ikhlas dan Survive”

Energik, cerdas dan low profile. Kesan inilah yang muncul begitu menyapa Ibu muda yang satu ini. H.Heni Zulfadhli M.pd. Namanya tidaklah asing bagi dunia pendidikan Kalimantan Barat. Selain berkecimpung langsung di dunia kependidikan, beliau aktif di berbagai bidang sosial yang sudah digelutinya sejak muda. Bunda Heni, begitulah biasa ia disapa. Dengan penuh keyakinan beliau menegaskan bahwa Wanita Indonesia bisa survive dalam menghadapi tantangan era globalisasi yang semakin rumit dan keras. Inilah bincang-bincang hangatku bersama beliau di ruang kerja gedung Zamrud Khatulistiwa, Ahad, 23 Maret 2008 yang lalu. Bertepatan dengan ESQ peduli pendidikan angkatan 07.

Keluarga adalah potret keberhasilan

Bagi bunda Heni, wanita saat ini mendapatkan porsi yang hampir sama dengan kaum prianya. Ini menunjukkan bahwa wanita Indonesia sudah cukup berkualitas dan mampu membuktikan aktualisasi dirinya dalam berperan serta di masyarakat. Menurutnya, ini akan tampak berbeda dengan potret wanita di era beberapa dekade yang lalu. Mulai dari tingkat pendidikannya, sosialisasi dengan masyarakat.

”Peran dan kiprah kaum wanita untuk memajukan keluarga dan lingkungan berbeda dengan zaman dulu” ungkapnya sambil tersenyum ramah.

Bunda Heni, yang juga adalah seorang Istri dari ketua DPRD Provinsi kalbar Zulfadhli ini, menyatakan pendapatnya bahwa sosok wanita yang ideal itu adalah yang tak hanya membangun kemaslahatan bagi dirinya sendiri. Tapi ia juga mampu me-manage keluarga. Inilah potret suksesnya seorang wanita.

”Saya selalu melihat dari sisi tersebut. Dan saya yakin dengan kiprah di luarnya ia juga bisa sukses setelah berhasil memanajemen keluarga. Jadi basic disini adalah keluraga sebagai basis awalnya membangun peradaban dan karirnya...” ungkapnya.

Bunda Heni sendiri memiliki 2 orang puteri yang sudah duduk di kelas 3 SMP (SMP 3 Pontianak) dan yang bungsu di kelas 6 SD Al-azhar Pontianak. Ia menuturkan, 2 puterinya sangat mengerti dengan kesibukan Ayah-bundanya walaupun sering meninggalkan mereka. Puteri tertua juga sudah aktif berorganisasi dimana ia dipercaya mengemban amanah menjadi Ketua OSIS SMP 3 Pontianak. Mereka juga aktif mengikuti perlombaan-perlombaan.

”Anak-anak juga memberikan imbalan pada kami orang tuanya, berupa imbal balik yang besar dengan menghadiahkan kami prestasi-prestasi yang membanggakan...”

Jadi, kendatipun memiliki kepadatan aktivitas, bunda Heni selalu bersemangat untuk menyempatkan diri hadir untuk anak-anaknya. Menemani anak-anak jalan-jalan, belajar dan juga setia menemani mereka dalam mengikuti lomba-lomba. Sungguh menyenangkan.

Ternyata ”minat” berorganisasi ini memang sengaja ditanamkan oleh bunda Heni karena beliau juga di masa muda mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan positif.

Sejak SMP sudah aktif dan cinta berorganisasi. SMP dan SMA Bunda Heni dipercaya menjadi Ketua OSIS. Aktif di MENWA (Resimen Mahasiswa) ketika mahasiswa. Paling lama aktif di FKPPI (Forum Komunikasi Putera-Puteri Purnawirawan dan Putera-Puteri ABRI) dari tahun 1986-sekarang.

Bunda Heni mengakui, ia sangat bangga menjadi anak tentara dimana keluarga mengajarkan padanya arti disiplin dan tanggung jawab.

Ternyata masih seabrek aktivitas beliau. Yang lainnya adalah sempat aktif di KNPI. Dan juga di PGRI dimana beliau dipercaya pula menjadi Sekretaris PGRI Kecamatan Pontianak Selatan. ”Saat ini sudah mau Konpercab, sudah akan menyerahkan amanah..” tambahnya sambil tersenyum.

Organisasi sosial yang beliau geluti adalah sebagai Kepala pengurus SO-ina, sebuah organisasi sosial nirlaba yang membantu anak-anak tuna grahita (keterbelakangan mental). Tujuan organisasi ini adalah untuk membangkitkan kepercayaan diri anak-anak tuna grahita melalui olahraga.

”Bahkan mereka juga berhasil meraih prestasi hingga di Brunei Darussalam...” kata Bunda Heni dengan mata berbinar-binar.

Saat ini Bunda Heni juga memegang amanah sebagai Ketua Yayasan bangkit Indonesia Emas yang di pimpin oleh pusatnya di Jakarta, langsung oleh Bapak Ari Ginanjar Agustian.

Ikhlas, dan tingkatkan semangat juang!

Saat bercerita tentang keluarga, khususnya anak-anak, bunda Heni tampak menitikkan air mata sebagai rasa sayang dan haru atas karunia yang Allah berikan kepadanya.

Ia berpesan, ”kerjakan segalanya dengan ikhlas! Belajar, bekerja, semuanya. Seluruh aktivitas, ”Lillahi ta’ala”. Itulah kunci saya, ujarnya optimis. Memang terkesan simple. Tapi keikhlasan adalah sebuah energi yang sesungguhnya mampu menggelorakan semangat juang, dan menfilter rasa lelah dalam mengahadapi aktivitas.

Selain itu, bunda Heni juga berharap tiap wanita mampu memperkaya dirinya. Selalu memotivasi sekitar! Beliau bertutur,

”Saya sering melihat anak-anak didik saya di waktu pagi hari sudah tampak loyo, lemes-lemes. Akhirnya saya ajak saja mereka sebelum memulai aktivitas belajar untuk lari-lari turun naik tangga di 3 lantai sebanyak 3 kali” ujarnya dengan penuh tawa. ”Sebagai latihan fisik, agar mereka jadi semangat! Dan tentunya saya juga turut ikut turun-naik tangga bareng-bareng mereka...” lanjutnya gembira.

Pandangan bunda Heni, anak-anak sekarang karena segalanya serba instant terkesan kurang ”fight” dalam menjalani hidup. ”Saya prihatin juga melihat fenomena ini” ujarnya. Ia mulai bercerita lagi,

”Pernah suatu waktu saya menghubungi anak bungsu saya karena pensilnya ketinggalan. Waktu saya tanya..’Dek.....ketinggalan pensil nih..’ eh si Adek malah jawab ’Kan udah ada di koperasi..” tuturnya, tampak gemas dengan gaya anak bungsunya yang juga terkena imbas dari dunia sekarang yang serba instant.

Jadi, peran wanita kedepannya dalam menjadi ibu rumah tangga tentunya harus memiliki daya tahan dan daya juang yang lebih ekstra! Harus lebih fight! Karena dipastikan kedepannya, kehidupan kaum wanita akan jauh lebih berat dari pada saat ini.

Kerja keras di masa muda, bersakit-sakit dahulu inilah yang Insya Allah akan menjamin hasil kesuksesan di masa depan.

”Karena saya dan Bapak (Zulfadhli-red) juga memulai semua ini dari bawah. Tapi kami terus survive, hanya mengharapkan imbalan dari Allah SWT, ikhlas menjalaninya. Akhirnya orang-orang sekelilinglah yang menilai dan menaruh kepercayaan atas ikhtiar-ikhtiar yang kami lakukan.”

Ia bangga dengan generasi muda yang aktivis (aktif). Beda antara yang hanya sekedar belajar secara akademis, dengan mereka-mereka yang menyeimbangakan akademik dengan organisasi.

”Jadi pintar, juga harus dibarengi dengan kepribadian” ujarnya ramah.

Sabtu, 05 April 2008

"RIMBA TEMPAT AKU BERNAFAS"


Aku tergeletak kaku diantara akar-akar pohon tajam
Meronta-ronta mengharap belas kasihan pertolongan sang kehidupan
Kenapa tak ada yang balas teriak?

Kenapa tak ada yang lepaskan kesakitan?

Inilah rimba tempat aku bernafas….

Saat halilintar menyambar pohon pinus yang kini kering kerontang kehitaman
Aku tertawa tuk kemudian menjerit ketakutan
Inilah episode baru saat aku yakin nyatanya sebuah kematian
Yakin akan nyatanya sebuah keabadian


Ku masih disini
Rimba tempat aku bernafas

Saat hujan menderas dan memekik seantero hutan

Bunga-bunga yang kemarin indah kini mematung dan mati
Kehidupan tinggallah maya
Dan bayangan gelap kan menggantikannya

Ternyata kumasih disini


Rimba tempat aku bernafas



“Sebuah sajak goresan hati, tuk semakin memaknai indahnya arti sebuah kehidupan…..”