Kamis, 23 Oktober 2008

Don't do that for your Mom...


Ibumu adalah satu-satunya ibu
Tiada 2 ibu dalam hidupmu

Jika ada
Namanya bukan ibu lagi
Tapi ada tambahan gelar
Ibu Tiri
Ibu Angkat

Ibumu adalah satu-satunya wanita yang paling cantik
Walau dia datang dengan seribu omelan dan ceramah
Tapi ibumu adalah orang yang paling sayang
Karena dia masih berbicara kepadamu
Orang yang tidak berbicara kepadamu
Adalah orang yang tidak mengenalmu
Atau orang yang sudah meninggalkan dunia ini
Atau orang yang sakit jiwa
Dan ibumu masih mengenalmu, dia belum meninggalkan dunia ini dan dia
tidak sakit jiwa

Ibumu adalah orang yang menjadi Syurga dan Nerakamu
Tatkala seorang sahabat pergi berjihad
Dia tidak izin dengan orangtuanya
Keduanya menangis meratapi kepergian anaknya yang tanpa izin
Kejadian ini didengar Nabi
Beliau perintahkan sahabat itu kembali ke rumah
Sebelum pergi Nabi meninggalkan pesan singkat
"Buatlah keduanya tertawa, setelah sebelum ini keduanya menangis"
Tak terhitung berapa banyak anak Palestina yang pamit sebelum
melaksanakan bom syahidnya
Mereka berpamit dengan ibunya
Sang ibu melepasnya dengan ikhlas
Mendoakannya

Dan dirimu........

Tidaklah dirimu pergi ke medan sekelas jihad di Palestina
Tapi izin dan pamit
Sebagai tanda cintamu pada ibumu
Adalah sesuatu yang tidak boleh engkau abaikan
Ibumu masih hidup
Suatu hari nanti
Jika dia sudah tiada
Engkau takkan bisa lagi mendengar suaranya
Takkan bisa lagi memberikan kepadanya pakaian
Engkau hanya bertemu batu nisan disana
Terpahat nama, tanggal lahir dan wafatnya
Tapi kan terpahat selamanya dihatimu
Penyesalan

Karena mengabaikan sikapmu yang indah pada ibumu
Sebelum segalanya terlambat
Berbuat baiklah kepada ibu, rendahkanlah ucapan dan agungkan sikap
penghormatanmu Kepada ibumu

"Dan kami perintahkan kepada manusia
untuk berbuat baik kepada ibu bapaknya
Ibunya telah mengandung dirinya dalam keadaan payah diatas payah
Berbuat baiklah kepada ibu bapakmu
Dan kepada Kamilah kembalimu"


(Terima kasih, Kakak, atas artikel ini. Selalu merindukan dan menghormatimu....)

Yuk lanjut bacanya...

Saat harus berpaling lagi...


Jika sebuah pengkhianatan adalah hal keji di muka bumi ini, maka bisa jadi mengkhianati Allah dengan lari dari-Nya ketika sedang bermasalah bisa jadi merupakan sebuah kekejian yang paling bengis.

Hari ini segala semangat kehidupanku menguap. Untuk sejenak saja, kukira ( setidaknya ketika aku menulis ini).

Dengan segenap rasa berat di dada, aku terbang bersama dunia maya. Tanpa tujuan, tanpa keinginan. Semuanya dilakukan tanpa asa.

Gemetar, itu yang aku rasakan sekarang......

Hingga pada akhirnya, laksana sebuah saputan air di bibir pantai,sampailah aku pada kalimat ini...Kutemukan kata-kata indah itu dari sebuah shoutbox.

Andaikan engkau perlu kekasih,maka pilihlah ALLAH. Kiranya engkau perlu teman sejati,maka dampingilah AL-QURAN. Jikalau engkau perlu kekuatan dalam kehidupan,maka bertawakallah pada ALLAH & bersabarlah....


Allah, aku kembali pada-Mu.............

Yuk lanjut bacanya...

Minggu, 12 Oktober 2008

Legolas


Full name: Legolas Greenleaf
Name meaning: Legolas=Greenleaf (Sindarin Elvish)
Aliases: None
Date of birth: Unknown in the books; TA 87 in the movies
Date of death: Unknown
Race: Elf
Parents: Thranduil (father); mother unknown
Siblings: Unknown
Spouse: None
Children: None
Hair color: Unknown in the books; blond in the movies
Eye color: Unknown in the books; blue in the movies
Played in the movies by: Orlando Bloom

History: Legolas was the son of Thranduil, king of the Elves of Mirkwood Forest. The Elves of Mirkwood were charged with protecting Gollum, but they couldn't bear to keep the creature in prison, and let him climb trees in the forest. One day Gollum refused to come down from his perch, and around June 20th, TA 3018, he was rescued by orcs. All his Elven guards were slain, and Thranduil sent his son to Rivendell to tell Elrond of Gollum's escape. After telling the Council the news (and having a brief argument with Glóin the Dwarf, whom Thranduil had imprisoned long ago), Legolas was chosen to represent the Elves in the Fellowship.

After Gandalf fell in Moria, the Fellowship journeyed to Lothlorien, where Legolas conversed with Haldir and the other guards of the forest. Haldir required that Gimli be blindfolded while walking through the land, which was not at all to the Dwarf's liking. He did say that he would be content if only Legolas would share his blindness, which greatly offended the Elf. But, after staying in Lothlorien for some time, Legolas began to develop a curious friendship with Gimli, taking the Dwarf with him on all his exploits. Before leaving the wood, Queen Galadriel gave Legolas a bow of the Galadhrim. Legolas put the weapon to good use when a Nazgul flew over the heads of the Fellowship: the Elf shot the steed out from under the Ringwraith. After Frodo and Sam fled from Amon Hen, Legolas chose to accompany Aragorn and Gimli in the hunt for Merry and Pippin.

Legolas never tired on the search, and when the Three Hunters came to Fangorn Forest, Legolas was fascinated by the old trees. He at first mistook an old wizard clad in white for Saruman, and tried to shoot an arrow at him, but was the first of the companions to figure out that the wizard was, in fact, Gandalf. The four companions rode to Edoras, and after Gandalf healed King Théoden, they travelled to Helm's Deep. Legolas fought bravely at the fortress, playing an orc-killing game with Gimli. Legolas' final score was 41; Gimli's was 42.

Legolas accompanied Aragorn, Gimli, Gandalf, and a small group of Rohirrim to Orthanc, where he witnessed the downfall of Saruman. Legolas chose to continue to follow Aragorn, even to the Paths of the Dead: the ghosts of Men held no terror for him. He helped man the Corsair ships in which the companions sailed to Minas Tirith, and fought courageously at the Battle of the Pelennor Fields. He journeyed with the Captains of the West to Mordor and fought in the Last Battle before the Gates of Mordor.

After the War of the Ring, Legolas stayed at Minas Tirith for Aragorn's coronation and wedding. He accompanied Théoden's funeral procession, and at Helm's Deep fulfilled his bargain with Gimli: if the Elf would visit the Glittering Caves with the Dwarf, then the Dwarf would explore Fangorn Forest with the Elf. After visiting the caves, Legolas could only say that Gimli alone could find words to describe them. Gimli was less willing to fulfill his part of the bargain, but the two took leave of their companions and explored Fangorn.

Legolas led many Wood Elves to Ithilien, where they beautified the war-torn land. Many years later, in FO 120, Legolas built a ship, and he and Gimli passed over the Sea to the Undying Lands.

Yuk lanjut bacanya...

Kamis, 02 Oktober 2008

Sekali lagi tentang ini....


“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan terhadap fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS.Ar-Rum:30)

Sms seorang sahabat menggetarkan hatiku. Sungguh, barisan kata itu begitu padu menggaung sampai ke kedalaman hati. Sahabatku berkata.....

“Fitrah Allah, telah memfitrahkan manusia atasnya (Al-Qur’an). Fitrah manusia itu adalah hidup dengan Al-Qur’an. Jika hidupnya jauh dari Al-qur’an berarti ia sudah jauh dari fitrah”

Subhanallah Maha suci Engkau Ya Allah........

Yuk lanjut bacanya...

Rabu, 01 Oktober 2008