Jumat, 23 Oktober 2009

Taukah anda..?_?

Tahukah anda...

Kalau orang yang kelihatan begitu tegar hatinya, adalah orang yang sangat lemah dan butuh pertolongan?

Tahukah anda....

Kalau orang yang menghabiskan waktunya untuk melindungi orang lain adalah justru orang yang sangat butuh seseorang untuk melindunginya?

Tahukah anda....

Kalau tiga hal yang paling sulit untuk diungkapkan adalah :Aku cinta kamu, maaf dan tolong aku

Tahukah anda...........

kalau orang yang suka berpakaian warna merah lebih yakin kepada dirinya sendiri?



Tahukah anda.....

Kalau orang yang suka berpakaian kuning adalah orang yang menikmati kecantikannya sendiri?

Tahukah anda.....

Kalau orang yang suka berpakaian hitamadalah orang yang ingin tidak diperhatikan dan butuh bantuan dan pengertian anda?

Tahukah anda....

Kalau anda menolong seseorang, pertolongan tersebut
dikembalikan dua kali lipat?*

Tahukah anda.

bahwa lebih mudah mengatakan perasaan anda dalam tulisan dibandingkan mengatakan kepada seseorang secara langsung?

Tapi tahukah anda bahwa hal tsb akan lebih bernilai saat anda mengatakannya dihadapan orang tsb?

Tahukah anda.....

kalau anda memohon sesuatu dengan keyakinan, keinginan anda tsb pasti dikabulkan?*

Tahukah anda..

bahwa anda bisa mewujudkan impian anda,seperti jatuh cinta,menjadi kaya, selalu sehat, jika anda memintanya dengan keyakinan, dan jika anda benar-benar tahu, anda akan terkejut dengan apa yang bisa anda lakukan.

Tapi jangan percaya semua yang saya katakan.......

sebelum anda mencobanya sendiri......

Yuk lanjut bacanya...

Senin, 19 Oktober 2009

Buku Terjemahan? Ada apa ya?





I Love Book edisi Ahad18 Oktober 2009 kemarin, menyajikan tema tentang “Buku Terjemahan”. Smoga aja notes ini bermanfaat ya buat teman-teman blogger dan fesbuker, wa bil khusus buat Akh Hamada yang meminta bahan siaran tadi di jadikan notes di Fesbuk. Tulisan ini bersumber dari majalah Annida Edisi 9/XVII/Mei 2008


Ada sebuah fakta yang dilansir oleh Litbang Ikatan penerbit Indonesia (IKAPI) yang mungkin mengejutkan bagi para pecinta buku : 55% buku yang menguasai pasar buku Indonesia adalah Karya terjemahan! Walau ini merupakan fakta keluaran tahun 2005, tapi ini bisa menjadi ukuran kasar untuk menggambarkan bagaimana digjayanya buku karya-karya penulis luar di negeri kita ini. Betul, kan sobat?

Litbang KOMPAS : dari total jumlah penduduk Indonesia (200 juta orang), penerbitan buku baru sekitar 0,00009 persen . It means sekitar 9 judul buku baru untuk 1 juta penduduk! It means! Dalam 1 tahun baru sekitar 10.000 judul buku , dengan tiras 20 juta eksemplar, yang terbit! Kasarnya lagi, 1 buku masih dibaca oleh 10 orang!



Yang mengejutkan, antusiasme masyarakat kita terhadap buku-buku terjemahan sudah berada pada stadium tinggi! Buku seperti Harry Potter dan The Lord of The Rings , misalnya. Mendapat sambutan yang luar biasa. Setiap seri barunya terbit, pemesanan sudah masuk jauh sebelum bukunya beredar.

Novel HP dan TLoTR memang mewakili produktivitas para penulis liar yang gila-gilaan. Selain itu, upaya eksploratif mereka terhadap tema-tema cerita juga luar biasa..

Runyamnya, situasi bisnis perbukuan di tanah air masih kuat dengan tabiat latah. Banyak penerbit yang mengikuti tren pasar tanpa pertimbangan, karena yang dibidiknya memang hanya keuntungan. Di ranah buku-buku terjemahan, yang dikeluhkan kualitas alih bahasanya, semata-mata karena sebuah tren yang diciptakan oleh sebuah buku terjemahan yang mengalami best seller. Novel Kitab Lupa dan Gelak Tawa (The book of laughter and Forgeting) karya Milan Kundera, mislanya. Novel yang berkisah tentang prilaku politik penguasa dan Cekoslovakia yang lalim ini, menyusun buku dan novel lain yang notabene karya masterpiece namun oleh hancur oleh penerjemahannya seperti The Purple Cow (Seth Godin), The Da Vinci Code (Dan Brown), atau The World is flat (Thomas L.Friedmen). Memang buku ini mendapat sambutan yang baik, tetapi pada saat yang sama juga mendapat serbuan keluhan karena kualitas penerjemahannya.

Keluhan umumnya mencakup masalah transliterasi pada bahasa sasaran (terjemahan sangat kaku), karena sekedar mengejar kemiripan arti, perbedaan versi terjemahan (beda penerbit, beda terjemahan), dan pembunuhan karakter dan gaya pengarang.

Kisruhnya dunia penerjemahan buku kita terjadi salah satunya karena kekeliruan orientasi dalam penerjemahan. Pada umumnya, dalam melakukan alih bahasa, penerjemah berorientasi pada pncarian makna yang sama persis terhadap bahasa sasaran.

Ada enam factor di luar teks yang ikut mempengaruhi proses penerjemahan.
1. Penulis teks
Penulis dalam berkarya dipengaruhi oleh latar belakang hidupnya (pendidikan, bacaan, budaya, afiliasi sosoal politik---Mungkin terhadap organisasi tertentu, keluarga,lingkungan)
2. Penerjemah
3. Pembaca
4. Norma bahasa yang berbeda antara bahasa sumber dan bahasa sasaran
5. Kebudayaan yang melatarbelakangi bahasa sasaran
6. Topik yang ditulis

Contoh kasus penerjemahan berorientasi kepada bahasa sasaran adalah alih bahasa yang dilakukan oleh William Weaver atas Pendolo di Foucault (1988)., novel karya Umberto Eco. Weaver menerjemahkannya dalam bahasa Inggris menjadi Foucault Pendulum. Dalam novel itu, Eco menggambarkan tokoh utamanya di sebuah perbukitan dengan mengutip sejak Giacomo Leopardi L’infinito “al di la della siepe, come osservava diotallevi”. Menurut Eco, bagi pembaca Inggris kutipan sajak itu menjadi kalimat asing karena mereka tidak tahu Diotalevi. Sementara pembaca Italia hafal luar biasa terhadap sajak ini, (sebagaimana orang Indonesia hafal sajak “Krawang Bekasi”-nya Chairil Anwar), akan langsung segera merasakan nuansa kampong yang dikelilingi bukit ketika membaca larik sajak itu. Dengan kepentingan bahasa sasaran, Weaver menghilangkan kutipan sajak itu dalam novel Eco versi terjemahannya.

So, siapa yang bertanggung jawab terhadap kualitas penerjemahan?

Tiga pihak penting, tak lain tak bukan adalah : Penerjemah, Editor dan Penerbit.

Penerjemah, bertanggung jawab terhadap upaya penerjemahan.

Editor, sebagai lapis kedua, seharusnya mem-back up hasil terjemahan sehingga kualitas terjemahan dapat dipertanggungjawabkan.

Dan terakhir, penerbit. Yang bertanggung jawab atas masalah terjemahan. Banyak fakta yang menunjukkan bahwa terbitnya karya terjemahan berkualitas buruk seringkali karena factor penerbit.

Yuk lanjut bacanya...