Jumat, 11 Mei 2012

Catatan Seorang guru #1

"A master can tell you what he expects of you.
A teacher, though, awakens your own expectations"
(Patricia Neal)

♥ ♥ ♥


Kemarin salah seorang guru di sekolah (dia sebaya saya), memberitahu..

“Kak, kemarin murid-murid bilang ke saya, kalau saya galak di kelas. Lalu mereka bilang lagi, tapi Mrs. Mimi lebih galak. Apalagi setelah Mrs. Mimi menikah….”

Saya senyum mendengarnya. Ya, seingat saya saat saya hamil kemarin, karena bawaan hormon mungkin dan rasa lelah yang tak kepalang, saya tampil sebagai guru yang “galak”.

Itu kejadian kemarin.

Hari ini beda lagi. Di salah satu diary bahasa inggris milik salah satu murid saya yang bernama Agnes, saya menemukan sebuah ‘surat kecil’ dan gambar hasil buatannya sendiri.

Tulisan itu berbunyi,

“Mis Mimi
Engkau adalah guru bahasa Inggrisku
Kutak lupa saat kau bicara dari mulutmu yang manis
Engkau guru bahasa Inggris yang kucintai s’lamanya….
Kan s’lalu kuingat kau dari hatiku…”


Lalu sebuah gambar hitam putih yang ia buat dari pensil, muncul di halaman berikutnya. Gambar itu adalah saya. Seorang wanita memakai jilbab, duduk di meja guru. Diatas meja dia juga menggambar tas saya yang ia 'letakkan' di ujung meja.

Saya senyum lagi.

Masih di ruang kelas. Tak berselang berapa lama, salah seorang murid melapor. Dia terganggu dengan temannya yang bukannya mengerjakan tugas, malah ngobrol. Saya pun menegur.

“Dani….”. Ini kode saya. Dia menatap wajah ‘kode” saya. Kode “be silent”.

Eh tak lama sayup-sayup saya mendengar,

“Jangan suka marah, miss. Miss Mimi itu beatipull..” katanya polos, sambil sandaran di kursi. Saya pengen tertawa sebenarnya. Tapi untung bisa menguasai diri. Jujur, saya menahan tawa melihat wajahnya saat mengatakan itu. Santai sekali. Lugu, khas anak-anak.

Saya (hanya bisa) senyum lagi.

Dan banyak lagi.

♥ ♥ ♥

Banyak hal yang saya temui dan saya pelajari dari anak-anak. Jika saya mentransfer ilmu pada mereka, sesungguhnya mereka justru mentransfer kepolosan, kejujuran dan “what do you life for” pada saya. Dulu di awal-awal mengajar (saya sudah 6 tahun mengajar di sekolah ini), saya sangat terobsesi anak-anak meraih nilai yang tinggi dan bagus.

Tapi akhirnya saya sadar. Mereka juga punya sisi-sisi di luar angka, yang perlu di apresiasi dan di bukakan empati. Belajar mereka tak sekedar angka yang tertoreh di nilai rapor. Tapi nilai-nilai kehidupanlah yang harus ‘dibawakan’ kepada mereka. Yang pada akhirnya, justru sayalah yang juga turut ‘dibawakan’ nilai-nilai kehidupan itu oleh mereka. Saya belajar dari mereka!

Saya belajar untuk tidak malu mengutarakan afeksi (kasih sayang)
Saya belajar untuk tidak malu memberikan salutasi (pujian) jika memang mereka berhak
Saya belajar untuk tahu bahwa kehidupan setiap anak di rumah tidak sama
Saya belajar untuk bersabar lebih banyak
Saya belajar untuk menghargai apa yang telah di upayakan
Saya belajar untuk lebih banyak tersenyum di situasi sulit

Dan banyak lagi...

Untuk tahun ini saya kehilangan salah satu murid laki-laki. Dia meninggal karena kecelakaan. Anaknya tinggi besar, baik walau mungkin secara akademik dia tidak menonjol. Namun dari salah seorang guru saya ketahui satu hal,

“Mama nya kerja di Malaysia jadi dia paling rajin kalau di rumah”

Saya tersentuh sekali. Di daftar nilai masih terpampang namanya. Saya juga mengecek buku daftar nilai saya beberapa tahun lalu. Namanya masih ada berikut angka-angka yang ia peroleh.

Dulu ia tidak terlalu mendapat perhatian saya. Tapi kini saat ia tak ada lagi, justru saya sering terpikir akan dia.

Satu lagi anak yang menjadi bahan pemikiran saya akhir-akhir ini. Dia mungkin salah satu murid terbaik. Beberapa guru memperbincangkannya ke saya. Anaknya ganteng, pintar dan sungguh-sungguh atau fokus dalam mengerjakan sesuatu. Yang terakhir ini jarang saya temui pada anak-anak lain. Anak ini telah bersama saya di kelas bahasa Inggris sejak masih kelas 3 SD hingga kini ia di kelas 6. Dan memang demikianlah ia, dari masih kecil dulu memang sudah tampak kesungguhannya dalam mempelajari sesuatu. Selain itu prilakunya juga sopan.

Guru Matematika memuji dia, karena walau dia terlihat jarang jajan sebagaimana anak-anak lain, tapi ia cerdas. "Bapaknya itu hanya satpam..tapi kayaknya berhasil banget mendidik anak..".

Mantan wali kelasnya juga demikian, berceritera kepada saya, "Ibu salut dengan dia. Waktu masih kecil dulu kalo dia sakit dan tidak bisa les atau sekolah, dia keukuh minta anter mama nya ke ibu untuk minta izin. Pake sweater, demam-demam.." kenang sang mantan wali kelas 3 nya.

Saya kagum. Tidak hanya pada anak ini, tapi kepada orang tuanya. Saya jujur saja, kaget waktu mengetahui ayahnya 'hanya' lah satpam dan ibunya ibu rumah tangga 'biasa'. Karena anak ini terlihat rapi dan 'necis' saat bersekolah. Saya kagum, orang tuanya sungguh memperhatikan dan mengutamakan pendidikan anak mereka. Tidak seperti orang tua kebanyakan, yang menyerahkan bulat-bulat anaknya ke sekolah, tanpa juga memberikan bimbingan keluarga di rumah.

♥ ♥ ♥

Anyway, saya sangat senang mengenal anak-anak ini. Dan saya senang karena saya bisa belajar bersama mereka.

Mungkin diatas kertas putih, saya adalah guru mereka. Namun jauh di dasar hati yang dalam, sungguh......merekalah guru saya...
tepuktangan

#8 Desember 2011

(Saat diary kalian memenuhi tempat tidurku..)

Yuk lanjut bacanya...

Sebuah Nyanyian Hangat

Bagi suami yang sangat mencintai istrinya, omelan istri terdengar seperti nyanyian yang lucu dan menghangatkan hati” (Mario Teguh)

♥ ♥ ♥

Apakah kita istri yang cerewet?

Agak susah menjawabnya. Karena mungkin definisi cerewet setiap orang berbeda-beda.

Mario Teguh melukiskan sisi “kecerewetan” bu Lina di beberapa statusnya di fan page MTFGW dalam bentuk fragmen yang menggelitik namun romantis.



Salah satunya adalah saat ibu Lina mengomelinya untuk banyak beristirahat, berolahraga dan lain-lain. Begini bunyinya:



*Semalam, di Ubud - Bali, Ibu Linna berbicara panjang lebar menasehati saya, agar saya menambahkan waktu istirahat, agar saya lebih banyak berolah raga, ... terus ini, ... terus itu, beserta semua pasal dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Kemudian, dengan wajah yang puas dengan nasehatnya sendiri, dia berpaling kepada saya, yang sejak tadi diam menerawang ke kegelapan malam Ubud yang indah, dan dia bertanya ...

“Coba, kalau nggak ada aku yang ngurusin Honey, bagaimana coba?

Memang Honey mau istri yang bagaimana lagi?”

Saya menghela nafas dalam dan berat ..., saya menjawab lirih

"Yah ... aku mau istri yang nggak ngomelan ..."

"Ooh ... apa kau bilang?"


Wah, saya salah bicara. Dia meneruskan lagi dengan nasehat dari Mahabarata ...

Saya merasa seperti jaman telah berganti, saat dia nyeletuk,

"Coba apa nasehat Honey, yang Honey sendiri pakai? Coba apa?"

"Yah ... Yang waras, diam."

"Ooh ... apa kau bilang?"

Wah, saya salah bicara lagi.

Lalu saya memandangi wajah wanita kecil yang sangat saya cintai itu, yang saya ketahui dengan pasti bahwa semua kekhawatirannya adalah untuk kebaikan saya dan anak-anak.

Hmm ... bagi suami yang sangat mencintai istrinya, omelan istri terdengar seperti nyanyian yang lucu dan menghangatkan hati.

Mario Teguh - Loving you all as always *


sengihnampakgigi Hehe sengihnampakgigi
Saya suka sekali membacanya.

Yah….persis seperti Ibu Lina dan wanita-wanita lainnya. Saya
kadang mengalami hal yang serupa. Begitu bersemangat “memberitahu-agar-mereka-lebih sehat-lebih keren-lebih bersih-lebih ganteng- lebih baik” pada suami. Tapi ternyata justru terdeteksi sebagai “kecerewetan” baginya.

Saya pernah mengomentari (bukan mengomeli) wajah suami yang berminyak dan kesannya kusam, gak bersih. Lantas saya menarik tangannya sebelum berangkat kerja. Dan saya olesi wajahnya dengan spon lembut yang sudah diberi bedak tipis.

Awalnya dia menolak dan hendak melarikan diri. Tapi pada akhirnya ia hanya bisa pasrah. Saya jelaskan sedikit (bukan mengomeli) bahwa kalo wajah kinclong and segar, tentu sedap dipandang mata. Tidak urakan. Tidak asal. Itu namanya menghargai lingkungan sekitar. (Sekali lagi ini bukan kecerewetan, tapi “memberitahu-agar-suami-lebih sehat-lebih keren-lebih bersih-lebih-ganteng-lebih baik”.)

Ada lagi.

Ahad malam lalu saat mampir ke sebuah kedai bakso yang sudah lama tak kami datangi, hal seperti di atas kami alami lagi. Saya dianggap “cerewet”. Mungkin.


Saya ditegur olehnya karena berbicara tidak pada tempatnya.


Saya mengatakan, “Cabenya mencurigakan…” (Maksud hati “mengabari dan memperingatkan” dia dan saya agar tidak menyendok cabe bakso tsb, khawatir bikin sakit perut).

Satu lagi,


Saat saya bertanya kepadanya,

“Sayurannya dimakan ngga nih?” (Maksud hati “mengingatkan” kembali perjanjian kami berdua; kalo kapan-kapan kita makan di luar, baeknya sayuran nya gak dimakan, khawatir ga di cuci bersih, rawan toksoplasma).


Ternyata hal ini memantik rasa tidak suka dari suami. Awalnya dia tidak mengutarakannya. Namun pada akhirnya dia mengatakannya juga pada saya, bahwa dia merasa tidak enak jika perkataan-perkataan saya tadi terdengar oleh si penjual. Itu adalah hal yang tidak baik.

Jadi saya berpikir..Apakah saya istri yang cerewet?

♥ ♥ ♥

Yah begitulah. Kadang banyak sinyal-sinyal cinta dan sayang ‘tertangkap’ sebagai bentuk ‘kecerewetan’. Mungkin.

Dan saya sangat senang jika tiap suami bisa bijak seperti pak Mario menanggapi ke’cerewetan’ istrinya, seperti bait-bait romantis tadi:


“..bagi suami yang sangat mencintai istrinya, omelan istri terdengar seperti nyanyian yang lucu dan menghangatkan hati”.

Karena sekali lagi. Bagi saya, itu bukanlah “omelan/kecerewetan”. Melainkan, “Memberitahu-agar-suami-lebih sehat-lebih keren-lebih bersih-lebih-ganteng-lebih baik”. That's it.....


# Pontianak, 06 Desember 2011

(Saat pengen ngomel di malam hari)
rindu

Yuk lanjut bacanya...