Senin, 05 Desember 2022

"Sekolah, Guru, dan Teknologi”

(PEMANFAATAN TEKNOLOGI DALAM MENDUKUNG DUNIA PENDIDIKAN GUNA MENGHADAPI TANTANGAN PADA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 )

Ditulis oleh : Harmi Cahyani, S.Pd

 “Teknologi bukanlah apa-apa. Hal yang penting adalah kamu memiliki keyakinan terhadap orang lain, dimana mereka pada dasarnya baik dan pintar. Dan jika kamu memberikan mereka peralatan, mereka akan melakukan hal yang menakjubkan dengan alat-alat itu” (Steve Jobs)

***

“I think one day Artificial Intelligence is going to kill us”

“Kupikir suatu hari nanti Kecerdasan Buatan akan membunuh kita”,

Begitulah kira-kira ucapan Ratu Ramonda Sang penguasa Wakanda, kepada putrinya Shuri (yang dikonfirmasi merupakan sosok yang jenius, bahkan kecerdasannya melebihi Tony Stark maupun Bruce Banner). Saat itu Shuri tengah asyik bereksperimen di Lab-nya ditemani Griot, Sebuah sistem Kecerdasan Buatan yang ia buat.

Ini adalah sebuah cuplikan salah satu scene pada film Wakanda Forever yang saya tonton kemarin. Sebuah film yang menyuguhkan negeri fiksonal berteknologi tinggi dan makmur di Afrika Selatan.

Apa yang diucapkan sang Ratu cukup menarik. Sebuah pertanyaan besar muncul di benak. Mampukah kita menyiapkan generasi-generasi masa depan yang mampu mengendalikan teknologi dengan bijak dan tepat guna? Menjadikan mereka sebagai tangan-tangan yang tepat untuk memainkan senjata teknologi ini untuk umat manusia? Sebagaimana kutipan yang saya ambil dari Steve Job di atas. Teknologi bukanlah yang terpenting. Yang terpenting adalah bahwa kita sudah yakin bahwa orang-orang yang menggunakannya nanti adalah orang-orang yang baik.

         

DIGITAL : KAGET DI AWAL

   Era Pendidikan saat ini berbentuk Pendidikan 4.0 dimana kegiatan pembelajaran berlangsung dengan pendekatan berbasis digital. Tidak lagi monoton namun menjadi lebih asyik dan menarik dengan bantuan akses teknologi.

Yanuar Nugroho, seorang akademisi sekaligus birokrat menitikberatkan bahwa  Sistem Pendidikan harus mendorong Sumber Daya Manusia yang sejak dini terlibat dalam era digital. Mengenalkan teknologi sejak dini dalam artian mereka dikenalkan dengan keterampilan digital dasar.

Kemampuan Pengetahuan dan Keterampilan yang harus dimiliki oleh generasi ini dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 antara lain: Leadership skill (kepemimpinan), Communicative skill (kemampuan bernegosiasi), Critical thinking (berpikir kritis)

Semua dimulai terasa begitu masif saat pembelajaran jarak jauh menjadi solusi di saat dunia dilanda Pandemi Covid 19 di awal tahun 2020. Guru-guru kaget? Tentu saja. Karena pada saat itu akhirnya mau tak mau dan suka tidak suka mereka harus beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi yang tidak sepenuhnya mereka mahir sebelumnya. Salah satu solusi masa itu adalah pembelajaran dapat terpantau dan di transfer melalui rangkaian teknologi.

Saya sendiri berprofesi sebagai guru Apakah sebagai guru saya cukup mumpuni dalam menguasai teknologi dalam pembelajaran? Tentu saja tidak. Kami lebih banyak berkutat pada proses pembelajaran klasikal di dalam kelas. Lantas bagaimana guru-guru seperti saya ini bisa menjadi pendidik yang menguasai teknologi yang manfaat dalam mendukung dunia Pendidikan guna menghadapi tantangan pada era Revolusi Industri 4.0?  

            Menurut saya dengan banyak belajar dari komunitas teknologi itu sendiri. Belajar dari banyak sumber. Baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga mampu menerapkan teknologi secara tepat guna dalam proses pembelajaran.

 

TONGUE TWISTER DAN FACEBOOK

 Gaya belajar siswa mulai dirombak karena hadirnya teknologi di dalam dunia Pendidikan. Misalnya saja saat dunia dihantam Pandemi Covid 19 kemarin. Teknologi sangat berperan dengan sangat mengejutkan untuk dunia Pendidikan. Hadir beragam platform untuk memungkinkan pembelajaran jarak jauh. Zoom meeting, google meet, Google classroom, dan platform lain mulai dilirik dan dipelajari sehingga proses belajar di dunia Pendidikan tetap berlangsung.

Masa itu, berdasarkan pengalaman pribadi saya, saya mulai mencoba untuk memanfaatkan sosial media sebagai salah satu alat dalam pembelajaran. Jika masa itu sosial media semacam Facebook saya gunakan hanya untuk kepentingan pribadi, saat Covid melanda saya jadikan juga sebagai alat pembelajaran.

Salah satu tugas yang juga saya coba terapkan selama pembelajaran jarak jauh kemarin adalah memberikan tugas produk berupa video. Guru membagikan sebuah video  Tongue Twister. Anak-anak diminta merekam diri mereka dengan menyebutkan kembali Tongue Twister yang diberikan, tanpa melihat teks dan dengan pelafalan yang cepat dan tepat. Nantinya hasil video mereka akan diunggah ke facebook.

Apa sih Tongue Twister itu?

Tongue Twister atau Pembelit Lidah adalah urutan kata-kata spesifik yang harus diucapkan cepat dan sulit diulang bahkan oleh penutur asli. Berikut adalah kalimat Tongue Twsiter yang saya tugaskan kepada anak-anak kelas IX saat itu :

THE BIG BLACK BUG

BIT THE BIG BLACK BEAR,

BUT THE BIG BLACK BEAR

BIT THE BIG BLACK BUG BACK!

Bagaimana? Cukup sulit bukan, jika harus mengucapkannya dengan cepat dan tepat dan di hadapan kamera pula? Tugas ini mendapat reaksi beragam dari anak-anak. Ada yang berseru senang karena merasa tertantang untuk menjadi pemenang Tongue Twister Challenge ini. Tapi tak sedikit pula yang mengeluh kesulitan dan meratapi nasib mereka yang harus mengumpulkan video tersebut ke dalam bentuk rekaman.

Dan tak disangka ternyata sebagian hasil anak-anak ini cukup bagus dan di luar perkiraan saya, Bahkan mereka mengumpulkan video dengan bentuk yang menarik. Ada opening, backsound dan animasi. Ternyata anak-anak punya kemampuan diluar dugaan kami para guru. Saya bersemangat sekali saat mengupload video mereka ke Facebook. Beragam komentar diberikan oleh para netizen. Sungguh feedback yang menyenangkan.

 

TIK TOK : MEMBIUS GENERASI Z

           

Generasi yang akan mendominasi populasi manusia pada era Revolusi Industri 4.0 kebanyakan mereka yang lahir di tahun 1995-sekarang. Salah satu generasi yang lahir pada era ini adalah Generasi Z. Generasi Z ini sendiri dituntut untuk dapat memiliki soft skills yang bagus, seperti kreativitas, imaginasi, intuisi, emosi dan etik.

            Di tahun 2021 saya megikuti BIMTEK penggunaan Tik Tok untuk pembelajaran bagi Guru Bahasa Inggris. Sungguh hal yang menarik karena selama ini kita pahami Tik Tok hanya digunakan muda-mudi untuk berjoget di dunia maya. Saya sendiri sangat menyukai aplikasi ini karena didalamnya banyak konten berfaedah yang bisa kita temukan.         

            Dan ternyata membawa aplikasi ini ke pembelajaran menjadi tantangan tersendiri bagi para guru. Apalagi banyak yang belum mengenal bahkan menggunakan aplikasi ini. Disinilah tantangan para guru dalam menaklukkan teknologi informasi yang melaju kencang: pelajari, coba, kemudian terapkan! Walau tertatih.. Pada Bimtek ini kami diberikan 84 jam dengan 5 modul. Beberapa diantaranya adalah : Introduction Tik Tok for ELT, Designing Tik Tok Instructional Materials, Developing Tik Tok Instructional Materials, Developing Tik Tok Videos for ELT.

            Goal dari Bimtek ini adalah menghasilkan video pembelajaran berbahasa Inggris menggunakan aplikasi Tik tok. Dan saya memilih memanfaatkan fitur duet pada Tik Tok sebagai praktik berbahasa Inggris untuk anak-anak. Disaat anak-anak mengaktifkan fitur ini, mereka diminta untuk menduetkan lagu ataupun dialog pada video yang sudah saya siapkan.

            Untuk duet dialog, tidak banyak kendala. Mereka cukup menduetkan video guru dengan menjawab setiap pertanyaan, dan kalimat sudah tersedia di video. Tinggal baca saja. Namun untuk duet menyanyikan lagu berbahasa Inggris, banyak kejadian lucu disana. Hasil dari video duet mereka sangat menarik. Mulai dari suara yang fals, wajah terpaksa, sampai yang benar-benar bagus dalam warna suara, pelafalan dan pembawaan di depan kamera.

            Saya ingat sekali lagu COUNT ON ME dari Bruno Mars lah yang saya pilih untuk di duetkan. Seperti dugaan saya, siswa siswi saya yang notabene merupakan Generasi Z, sangat akrab dengan aplikasi Tik Tok ini. Tiap hasil video duet yang mereka kumpulkan, tergolong baik dan rapi.

Saya sangat berharap Tik Tok bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi gap (jurang) yang terjadi antara guru dengan peserta didik. Mereka tetap merasakan nuansa hiburan dalam proses pembelajaran.

Manfaat lain aplikasi ini juga menjadikan siswa siswi saya menjadi lebih aktif dan kreatif. Hal ini dapat saya lihat dari interaksi mereka melalui chat pribadi ke gurunya. Mereka meminta masukan dan panduan atas tugas yang diberikan, Video yang disuguhkan juga cukup baik kualitasnya. Selain itu, saya sebagai guru juga bisa merasakan di beberapa siswa yang pemalu, menjadi meningkat kepercayaan dirinya dengan berani tampil di video dengan sebaik-baiknya.

 

KOLABORASI PENDIDIKAN DAN TEKNOLOGI

            Besar harapan kami dari kaum guru kepada para ahli teknologi untuk dapat berbagi ilmu agar kami dapat meracik dengan tepat guna teknologi yang semakin berkembang ini dengan kegiatan pembelajaran yang kami lakukan.

            Bagaimanapun juga sektor pendidikan merupakan faktor terpenting dalam pembangunan berkelanjutan. Universitas Tanjungpura (UNTAN) yang telah membangun Ekosistem Digital dalam pengembangan dan pemanfaatan Teknologi Informasi di Era Revolusi Industri  4.0 dan nantinya membangun Cyber University, diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi Pendidikan tingkat dasar dan menengah, sehingga para guru mampu mengaktualisasikan diri mereka sebagai role model bagi peserta didik dalam memanfaatkan teknologi secara bijak dan tepat guna serta mempersiapkan mereka untuk menghadapai tantangan Revolusi Industri 4.0.

Tidak ada komentar: