Rabu, 15 Juni 2011

# Secarik "permohonan kejujuran" seorang istri

Ladies....

Kita adalah wanita yang hidup di saat kejujuran menjadi bahan purba yang amat langka.


Wanita-wanita yang saat membuka pintu, jendela, dan pagar rumah. Menghirup barang langka jujur yang kian menipis.

Kehidupan yang bertebaran kebohongan. Melekat di daun-daun hijau, jalan-jalan aspal, parit-parit. Dimana-mana. Bahkan dinding-dinding rumah pun tak lagi jujur bicara.

Ladies.....
Kita adalah wanita-wanita tempat suami-suami kita memijak akhiratnya. Tempat anak-anak terlindung dari panasnya neraka. Sesulit apapun kondisi ini. Pecut diri kita. Untuk kembali membibitkan kejujuran. Menyiraminya. Walau hujan badai. Walau panas menyengat. Walau hampir gagal. Walau gagal sekalipun. Bangkit lagi. Jaga orang-orang terkasih. Memegang kejujurannya.


Katakan pada suami-suami kita. Ayah ayah kita, "rezeki yang halal akan meng-ijabah doa. Rezeki yang tak halal, menjadikan doa-doa kita tertolak".


Untuk apa kami hidup bergelimang harta (harta kotor), tapi doa tertolak? Harapan masuk surga tertolak? Harapan dimatikan dalam khusnul khotimah tertolak? Harapan di mudahkan sakaratul maut tertolak? Harapan ditutupnya aib-aib tertolak?


TIDAK,TIDAK,TIDAK!

Dengarlah para ayah, dengar para suami! Kami Bertekad menghargai seberapapun rezeki halal yang telah susah payah kau usahakan. Sekecil apapun! Karna kami lebih ridha doa-doa kami di dengar oleh Allah. Diaminkan malaikat-malaikat-Nya. Maka janganlah bawa rezeki yang tidak halal di rumah ini..

Ya Allah, ampuni kebohongan-kebohongan kami di masa lalu. Jadikan kami hamba yang jujur. Dan takut akan kebohongan...jadikan kami jujur dgn agama kami, aqidah kami, akhlak kami dan ukhuwah kami.


#Pontianak, 14 Juni 2011. 18.38 (saat kasus contek massal vs Ibu Siami mencuat)

Tidak ada komentar: