Minggu, 12 Oktober 2008

Legolas


Full name: Legolas Greenleaf
Name meaning: Legolas=Greenleaf (Sindarin Elvish)
Aliases: None
Date of birth: Unknown in the books; TA 87 in the movies
Date of death: Unknown
Race: Elf
Parents: Thranduil (father); mother unknown
Siblings: Unknown
Spouse: None
Children: None
Hair color: Unknown in the books; blond in the movies
Eye color: Unknown in the books; blue in the movies
Played in the movies by: Orlando Bloom

History: Legolas was the son of Thranduil, king of the Elves of Mirkwood Forest. The Elves of Mirkwood were charged with protecting Gollum, but they couldn't bear to keep the creature in prison, and let him climb trees in the forest. One day Gollum refused to come down from his perch, and around June 20th, TA 3018, he was rescued by orcs. All his Elven guards were slain, and Thranduil sent his son to Rivendell to tell Elrond of Gollum's escape. After telling the Council the news (and having a brief argument with Glóin the Dwarf, whom Thranduil had imprisoned long ago), Legolas was chosen to represent the Elves in the Fellowship.

After Gandalf fell in Moria, the Fellowship journeyed to Lothlorien, where Legolas conversed with Haldir and the other guards of the forest. Haldir required that Gimli be blindfolded while walking through the land, which was not at all to the Dwarf's liking. He did say that he would be content if only Legolas would share his blindness, which greatly offended the Elf. But, after staying in Lothlorien for some time, Legolas began to develop a curious friendship with Gimli, taking the Dwarf with him on all his exploits. Before leaving the wood, Queen Galadriel gave Legolas a bow of the Galadhrim. Legolas put the weapon to good use when a Nazgul flew over the heads of the Fellowship: the Elf shot the steed out from under the Ringwraith. After Frodo and Sam fled from Amon Hen, Legolas chose to accompany Aragorn and Gimli in the hunt for Merry and Pippin.

Legolas never tired on the search, and when the Three Hunters came to Fangorn Forest, Legolas was fascinated by the old trees. He at first mistook an old wizard clad in white for Saruman, and tried to shoot an arrow at him, but was the first of the companions to figure out that the wizard was, in fact, Gandalf. The four companions rode to Edoras, and after Gandalf healed King Théoden, they travelled to Helm's Deep. Legolas fought bravely at the fortress, playing an orc-killing game with Gimli. Legolas' final score was 41; Gimli's was 42.

Legolas accompanied Aragorn, Gimli, Gandalf, and a small group of Rohirrim to Orthanc, where he witnessed the downfall of Saruman. Legolas chose to continue to follow Aragorn, even to the Paths of the Dead: the ghosts of Men held no terror for him. He helped man the Corsair ships in which the companions sailed to Minas Tirith, and fought courageously at the Battle of the Pelennor Fields. He journeyed with the Captains of the West to Mordor and fought in the Last Battle before the Gates of Mordor.

After the War of the Ring, Legolas stayed at Minas Tirith for Aragorn's coronation and wedding. He accompanied Théoden's funeral procession, and at Helm's Deep fulfilled his bargain with Gimli: if the Elf would visit the Glittering Caves with the Dwarf, then the Dwarf would explore Fangorn Forest with the Elf. After visiting the caves, Legolas could only say that Gimli alone could find words to describe them. Gimli was less willing to fulfill his part of the bargain, but the two took leave of their companions and explored Fangorn.

Legolas led many Wood Elves to Ithilien, where they beautified the war-torn land. Many years later, in FO 120, Legolas built a ship, and he and Gimli passed over the Sea to the Undying Lands.

Kamis, 02 Oktober 2008

Sekali lagi tentang ini....


“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan terhadap fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS.Ar-Rum:30)

Sms seorang sahabat menggetarkan hatiku. Sungguh, barisan kata itu begitu padu menggaung sampai ke kedalaman hati. Sahabatku berkata.....

“Fitrah Allah, telah memfitrahkan manusia atasnya (Al-Qur’an). Fitrah manusia itu adalah hidup dengan Al-Qur’an. Jika hidupnya jauh dari Al-qur’an berarti ia sudah jauh dari fitrah”

Subhanallah Maha suci Engkau Ya Allah........

Senin, 29 September 2008

"Jangan-jangan nggak bisa masak, Tante?"



Gimana prasaan kita jika H-2, H-1, hari H, H+1 (dan seterusnya) dengan H yang tak terkira, menjelang hari raya idul fitri kita masih tersibukkan dengan kesibukan di luar tanpa "menyentuh" urusan dalam rumah? Padahal yang namanya Idul Fithri begitu eloknya jika anak perempuan (palagi kalo dia semata wayang alias cewek satu-satunya), lebih banyak berdiam diri di rumah, membantu Ibu mempersiapkan segala macam keperluan hari raya secara FOKUS, TERARAH dan PROFESIONAL (halah, apa coba!).

Sore kemarin terjadi percakapan antara dua orang insan yakni Ibu saya dan ***Yang-Tak-Boleh-Disebut-Namanya** atau "KAU-TAHU-SIAPA" (Ih, kayak Lord Voldemort aja). Settingnya adalah halaman rumah saya dan terjadi bertepatan ketika kami akan menghadiri undangan buka puasa bersama keluarga besar Sukadana yang digawangin oleh OSO (Oesman Sapta Oedang)di Grand mahkota Hotel.

Singkat cerita, 2 tokoh dari tulisan ini tadi bercakap-cakap gak tau juga awal mula yang diomongin apa, bertepatan pada saat saya masuk bentar ke rumah dengan terburu-buru untuk mengambil slayer yang tertinggal ( panas banget bo' mataharinya.. Gak boleh keluar tanpa slayer dong..). Samar-samar saat melangkah menuju halaman, suara mereka terbawa oleh angin sore berhawa panas dan mudik di telingaku yang ngga tajem-tajem amat ini.

IBU : "....................." ( Belum kedengaran jelas yang diomongin)

Lord Voldemort : "....zz..mimi.......ZzZ." (Udah mulai samar-samar)

IBU : ".........ZzZ..ya..Mi..Ya...ZzzZZ...."

Lord Voldemort : "ZzZ...Hmm...Itulah....,, ZzZz..."

IBU : "...Ya, zzZZzz......mungkin...ZzzZZ"

Lord Voldemort : "Hmm...jadi ZzzZZ Mimi....ZzZZ..."

Akhirnya........

IBU : "Mimi sibuk sering di luar....."

Lord Voldemort : "Wah wah, jangan-jangan Mimi nggak bisa masak nih, Tante?"

TRINGG!!! Ni hal-hal yang tergolong sensitif bagi saya. Pas minta statement pembicaraan tsb diulang, Yah..ngga ada siaran ulangnya. Yang jelas prasangka saya gini : Lagi ngomongin Mimi yang sering keluar rumah dan ngga bisa masak...Gitu.

Yang jelas melalui tulisan ini, mewakili mereka yang tersibukan di luar rumah (mewakili akhwat Radio juga, sebangsa K nana en Risma). Saya hanya ingin meminta maaf kepada sanak keluarga mulai dari keluarga inti ampe keluarga besar. Bahwasanya saya sangat menghargai stempel Djarum Super (Djarang di Rumah Suka Pergi), namun dengan berbesar hati saya hanya ingin menyentuh sudut terhalus semuanya bahwa apa yang saya lakukan disini semuanya Insya Allah juga mengandung kebaikan dan kemaslahatan (Amien....). Jadi tolong dimaapkan..... >^,^<

Semoga di waktu dekat ini saya bisa memperbaiki siklus hidup saya. Agar tidak ada pihak-pihak yang terdzolimi. Jika hampir setengah dari Ramadhan ini saya habiskan untuk berbuka di luar rumah (hik256x) saya harap jika umur saya sampai tahun depan di ramadhan selanjutnya, Allah akan mudahkan saya untuk lebih sering berada bersama-sama keluarga di rumah. Amien256x.

"Jangan-jangan nggak bisa masak, Tante?"

Duwh....kata-kata ini sungguh membuatku terluka.....( Hiy, apa coba!!).

Dah ah pamit dulu......

Wassalam

Minggu, 28 September 2008

Mon, , , , ,


Akhir-akhir ini ada hal yang cukup menggelitikku. Bukan hal besar, namun masalah kecil namun dipikir-pikir sangat berarti untuk dipikirkan (halah, apa coba!).

“Mon,,,,,” ni dia yang sapaan yang akhir-akhir ini kembali menggaung menggema sejagad raya. Pusaran katanya menerobos brutal dan random ke telingaku.

“Mon, , ,” bukan merupakan singkatan ngga jelas dari panggilan soheeb Aa Abdel, Temon. Justru Nick ini sudah pula kuterima sejak masa kecilku,

“Mon Mon, , , “ demikianlah abang semata wayangku kerap memanggilku di era 93-an. Apa susahnya sih memanggil “Mi, mi” gitu. Lebih simpel, toh? Ternyata ide brilian primitifnya itu muncul pada saat membaca majalah Bobo kolom Bona gajah kecil berbelalai panjang yang juga diramaikan oleh tokoh Mak konde. Dari Mak konde inilah dimunculkan juga sosok monyet usil yang tak mudah diatur apatah lagi disuruh-suruh, tersebut bernama Mon Mon.

Inilah pangkal masalah. Abangku berasumsi aku punya kemiripan dengan tokoh monyet tersebut ( Hatsyii!!!). Hingga hari ini panggilan itu masih kerap digunakan pada waktu dan tempat yang katakanlah, wrong time and in a wrong place. Selalu saja dominan pada waktu dan tempat yang salah…………………..

Belasan tahun bergumul dengan nick itu, akhirnya membuat hati, pikiran dan senyuman kembali mengadem dan terbiasa. Biarlah,,, anggap saja itu lovely nick. Ngga masyaa..lah…(,”).

Tapi yang menggelitik sekarang ( balik lagi ke paragraph 1). Ternyata nick rahasia ini ( hanya berlaku di zona keluarga), jebol juga di kalangan komunitas radio tempat aku bernaung. Beberapa orang di pelopori oleh yang berinisial “Rz” berhasil mensosialisasikan nick ini kembali. Diikuti oleh “Dj” yang akhir-akhir ini paling getol melakukan penggunaan nick tersebut untuk waktu dan tempat yang tak terbatas.

“Mon. , . atau Momon, , ,” nama baru yang terkadang ketika aku mendengarnya, muncul nuansa berbeda. Nuansa dramatis yang tak dapat dilukiskan dengan goresan kata per kata disini.

Ada nilai rasa yang berbeda ketika ada yang memanggilku dengan nick itu, , ,

Ini memang Lovely Nick….

Bisa jadi. . . . . .

Sabtu, 27 September 2008

APOLOGIZE



You…

The one who closed that door 4 me

And built this wall against me,,



You...


Forbidden the floor to be walked by me

And switch on a big rainy wind to me, ,



You…


Who discover that I’m nothing less than a looser

On your mind and thought, ,


No matter what I do

No matter how hard I try
It seems to be so wrong
In that useless stupid selfish freak, ,





Wish you to change

Wish you to erase it all from yours
N then I’ll back to fulfill the missing from yours
And then I’ll back to fulfill the missing part in your soul

Selasa, 09 September 2008

Akhirnya.....


Akhirnya dapet juga karakter-karakter yang akan berperan di film Ketika Cinta Bertasbih yang akan di garap oleh Chaerul Umam. Semangat bwt para Duta KCB!

Pontianak goes to Jakarta...n..Mesir..hehehe























Melalui Blog ini, Mimi secara resmi *halah* ingin mengucapkan selamat dan sukses kepada Nidia AR Alqadrie (Ninid) dan Roshinta Listia (Oshin) atas keberhasilannya mewakili Kalbar untuk menembus Grand final Audisi Cari 5 bintang Film ketika Cinta Bertasbih.

Luruskan niat sempurnakan ikhtiar ! Ingat selalu perjuangan 19 dari kita, pahit asem manis selama di Pontianak, Mess dan karantina Depok.


Di tunggu film-nye. 'En Salamin bwt Dude herlino >^.^<>


Sabtu, 06 September 2008

Renungan 7 Ramadhan


Untuk diriku yang lalai

Dengarlah bisikan ini

Akhir kehidupan kita adalah tercermin dari kebiasaan-kebiasaan kita

Bersiagalah!

Dr.Abdullah Azzam sudah menegaskan bahwasanya kamu sendirilah

Sang arsitek kematianmu sendiri

Maka rancang dan rencanakanlah kematianmu dengan sebaik-baiknya!

Untuk diriku yang lalai

Kenapa pernah tersirat dalam hatimu untuk meninggalkan dakwah?

Membutakah mata hati oleh pesona dunia raya?

Padahal Allah tegaskan untukmu untuk pergi berperang

Baik dalam keadaan BERAT maupun RINGAN!

Berteriaklah untuk keluar dari jalan dakwah!

Padahal sesungguhnya di saat itulah

kau sedang menjatuhkan dirimu sendiri ke jurang kehancuran!

Karena Islam akan terus berjaya

Dengan ada atau tidaknya kau disini

Bukan islam yang akan kalah

Namun dirimulah yang akan jauh merugi

Cutilah kau dari dakwah!

Inilah simbol bagi orang-orang yang tidak beriman!

Kembalilah masuk ke barisan mulia ini

Sekarang atau tidak sama sekali

Maju, dan songsonglah Syurga

Hilangkanlah kelalaian

Kembalilah kepada kemuliaan

( Thanks to Ust. Fatahillah Abrar dan panitia Daurah Tarqiyah..)

Minggu, 24 Agustus 2008

13 Sifat Laki-laki Yang Tidak Disukai Perempuan


Oleh: DR. Amir Faishol Fath

Para istri atau kaum wanita adalah manusia yang juga mempunyai hak tidak suka kepada laki-laki karena beberapa sifa-sifatnya. Karena itu kaum lelaki tidak boleh egois, dan merasa benar. Melainkan juga harus memperhatikan dirinya, sehingga ia benar-benar bisa tampil sebagai seorang yang baik. Baik di mata Allah, pun baik di mata manusia, lebih-lebih baik di mata istri. Ingat bahwa istri adalah sahabat terdekat, tidak saja di dunia melainkan sampai di surga. Karena itulah perhatikan sifat-sifat berikut yang secara umum sangat tidak disukai oleh para istri atau kaum wanita. Semoga bermanfaat.


Pertama, Tidak Punya Visi

Setiap kaum wanita merindukan suami yang mempunyai visi hidup yang jelas. Bahwa hidup ini diciptakan bukan semata untuk hidup. Melainkan ada tujuan mulia. Dalam pembukaan surah An Nisa’:1 Allah swt. Berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. Dalam ayat ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa tujuan hidup berumah tangga adalah untuk bertakwa kepada Allah. Takwa dalam arti bersungguh mentaati-Nya. Apa yang Allah haramkan benar-benar dijauhi. Dan apa yang Allah perintahkan benar ditaati.

Namun yang banyak terjadi kini, adalah bahwa banyak kaum lelaki atau para suami yang menutup-nutupi kemaksiatan. Istri tidak dianggap penting. Dosa demi dosa diperbuat di luar rumah dengan tanpa merasa takut kepada Allah. Ingat bahwa setiap dosa pasti ada kompensasinya. Jika tidak di dunia pasti di akhirat. Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang hancur karena keberanian para suami berbuat dosa. Padahal dalam masalah pernikahan Nabi saw. bersabda: “Pernikahan adalah separuh agama, maka bertakwalah pada separuh yang tersisa.”


Kedua, Kasar
Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Ini menunjukkan bahwa tabiat wanita tidak sama dengan tabiat laki-laki. Karena itu Nabi saw. menjelaskan bahwa kalau wanita dipaksa untuk menjadi seperti laki-laki tulung rusuk itu akan patah. Dan patahnya berarti talaknya. Dari sini nampak bahwa kaum wanita mempunyai sifat ingin selalui dilindungi. Bukan diperlakukan secara kasar. Karena itu Allah memerintahkan para suami secara khusus agar menyikapi para istri dengan lemah lembut: Wa’aasyiruuhunna bil ma’ruuf (Dan sikapilah para istri itu dengan perlakuan yang baik) An Nisa: 19. Perhatikan ayat ini menggambarkan bahwa sikap seorang suami yang baik bukan yang bersikap kasar, melainkan yang lembut dan melindungi istri.

Banyak para suami yang menganggap istri sebagai sapi perahan. Ia dibantai dan disakiti seenaknya. Tanpa sedikitpun kenal belas kasihan. Mentang-mentang badannya lebih kuat lalu memukul istri seenaknya. Ingat bahwa istri juga manusia. Ciptaan Allah. Kepada binatang saja kita harus belas kasihan, apalagi kepada manusia. Nabi pernah menggambarkan seseorang yang masuk neraka karena menyikas seekor kucing, apa lagi menyiksa seorang manusia yang merdeka.


Ketiga, Sombong

Sombong adalah sifat setan. Allah melaknat Iblis adalah karena kesombongannya. Abaa wastakbara wakaana minal kaafiriin (Al Baqarah:34). Tidak ada seorang mahlukpun yang berhak sombong, karena kesombongan hanyalah hak priogatif Allah. Allah berfirman dalam hadits Qurdsi: “Kesombongan adalah selendangku, siapa yang menandingi aku, akan aku masukkan neraka.” Wanita adalah mahluk yang lembut. Kesombongan sangat bertentangan dengan kelembutan wanita. Karena itu para istri yang baik tidak suka mempunyai suami sombong.

Sayangnya dalam keseharian sering terjadi banyak suami merasa bisa segalanya. Sehingga ia tidak mau menganggap dan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali. Bahkan ia tidak mau mendengarkan ucapan sang istri. Ingat bahwa sang anak lahir karena jasa kesebaran para istri. Sabar dalam mengandung selama sembilan bulan dan sabar dalam menyusui selama dua tahun. Sungguh banyak para istri yang menderita karena prilaku sombong seorang suami.


Keempat, Tertutup

Nabi saw. adalah contoh suami yang baik. Tidak ada dari sikap-sikapnya yang tidak diketahui istrinya. Nabi sangat terbuka kepada istri-istrinya. Bila hendak bepergian dengan salah seorang istrinya, nabi melakukan undian, agar tidak menimbulkan kecemburuan dari yang lain. Bila nabi ingin mendatangi salah seorang istrinya, ia izin terlebih dahulu kepada yang lain. Perhatikan betapa nabi sangat terbuka dalam menyikapi para istri. Tidak seorangpun dari mereka yang merasa didzalimi. Tidak ada seorang dari para istri yang merasa dikesampingkan.

Kini banyak kejadian para suami menutup-nutupi perbuatannya di luar rumah. Ia tidak mau berterus terang kepada istrinya. Bila ditanya selalu jawabannya ngambang. Entah ada rapat, atau pertemuan bisnis dan lain sebagainya. Padahal tidak demikian kejadiannya. Atau ia tidak mau berterus terang mengenai penghasilannya, atau tidak mau menjelaskan untuk apa saja pengeluaran uangnya. Sikap semacam ini sungguh sangat tidak disukai kaum wanita. Banyak para istri yang tersiksa karena sikap suami yang begitu tertutup ini.


Kelima, Plinplan

Setiap wanita sangat mendambakan seorang suami yang mempunyai pendirian. Bukan suami yang plinplan. Tetapi bukan diktator. Tegas dalam arti punya sikap dan alasan yang jelas dalam mengambil keputusan. Tetapi di saat yang sama ia bermusyawarah, lalu menentukan tindakan yang harus dilakukan dengan penuh keyakinan. Inilah salah satu makna qawwam dalam firman Allah: arrijaalu qawwamuun alan nisaa’ (An Nisa’:34).


Keenam, pembohong

Banyak kejadian para istri tersiksa karena sang suami suka berbohong. Tidak mau jujur atas perbuatannya. Ingat sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh ke tanah. Kebohongan adalah sikap yang paling Allah benci. Bahkan Nabi menganggap kebohongan adalah sikap orang-orang yang tidak beriman. Dalam sebuah hadits Nabi pernah ditanya: hal yakdzibul mukmin (apakah ada seorang mukmin berdusta?) Nabi menjawab: Laa (tidak). Ini menunjukkan bahwa berbuat bohong adalah sikap yang bertentangan dengan iman itu sendiri.

Sungguh tidak sedikit rumah tangga yang bubar karena kebohongan para suami. Ingat bahwa para istri tidak hanya butuh uang dan kemewahan dunia. Melainkan lenbih dari itu ia ingin dihargai. Kebohongan telah menghancurkan harga diri seorang istri. Karena banyak para istri yang siap dicerai karena tidak sanggup hidup dengan para sumai pembohong.


Ketujuh, Cengeng

Para istri ingin suami yang tegar, bukan suami yang cengeng. Benar Abu Bakar Ash Shiddiq adalah contoh suami yang selalu menangis. Tetapi ia menangis bukan karena cengeng melainkan karena sentuhan ayat-ayat Al Qur’an. Namun dalam sikap keseharian Abu Bakar jauh dari sikap cengeng. Abu Bakar sangat tegar dan penuh keberanian. Lihat sikapnya ketika menghadapi para pembangkang (murtaddin), Abu Bakar sangat tegar dan tidak sedikitpun gentar.

Suami yang cenging cendrung nampak di depan istri serba tidak meyakinkan. Para istri suka suami yang selalu gagah tetapi tidak sombong. Gagah dalam arti penuh semangat dan tidak kenal lelah. Lebih dari itu tabah dalam menghadapi berbagai cobaan hidup.


Kedelapan, Pengecut
Dalam sebuah doa, Nabi saw. minta perlindungan dari sikap pengecut (a’uudzubika minal jubn), mengapa? Sebab sikap pengecut banyak menghalangi sumber-sumber kebaikan. Banyak para istri yang tertahan keinginannya karena sikap pengecut suaminya. Banyak para istri yang tersiksa karena suaminya tidak berani menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Nabi saw. terkenal pemberani. Setiap ada pertempuran Nabi selalu dibarisan paling depan. Katika terdengar suara yang menakutkan di kota Madinah, Nabi saw. adalah yang pertama kaluar dan mendatangi suara tersebut.

Para istri sangat tidak suka suami pengecut. Mereka suka pada suami yang pemberani. Sebab tantangan hidup sangat menuntut keberanian. Tetapi bukan nekad, melainkan berani dengan penuh pertimbangan yang matang.

Kesembilan, Pemalas

Di antara doa Nabi saw. adalah minta perlindingan kepada Allah dari sikap malas: allahumma inni a’uudzubika minal ‘ajizi wal kasal , kata kasal artinya malas. Malas telah membuat seseorang tidak produktif. Banyak sumber-sumber rejeki yang tertutup karena kemalasan seorang suami. Malas sering kali membuat rumah tangga menjadi sempit dan terjepit. Para istri sangat tidak suka kepada seorang suami pemalas. Sebab keberadaanya di rumah bukan memecahkan masalah melainkan menambah permasalah. Seringkali sebuah rumah tangga diwarnai kericuhan karena malasnya seorang suami.

Kesepuluh, Cuek Pada Anak

Mendidik anak tidak saja tanggung jawab seorang istri melainkan lebih dari itu tanggung jawab seorang suami. Perhatikan surat Luqman, di sana kita menemukan pesan seorang ayah bernama Luqman, kepada anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah harus menentukan kompas jalan hidup sang anak. Nabi saw. Adalah contoh seorang ayah sejati. Perhatiannya kepada sang cucu Hasan Husain adalah contoh nyata, betapa beliau sangat sayang kepada anaknya. Bahkan pernah berlama-lama dalam sujudnya, karena sang cucu sedang bermain-main di atas punggungnya.

Kini banyak kita saksikan seorang ayah sangat cuek pada anak. Ia beranggapan bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri. Sikap seperti inilah yang sangat tidak disukai para wanita.

Kesebelas, Menang Sendiri

Setiap manusia mempunyai perasaan ingin dihargai pendapatnya. Begitu juga seorang istri. Banyak para istri tersiksa karena sikap suami yang selalu merasa benar sendiri. Karena itu Umar bin Khaththab lebih bersikap diam ketika sang istri berbicara. Ini adalah contoh yang patut ditiru. Umar beranggapan bahwa adalah hak istri mengungkapkan uneg-unegnya sang suami. Sebab hanya kepada suamilah ia menemukan tempat mencurahkan isi hatinya. Karena itu seorang suami hendaklah selalu lapang dadanya. Tidak ada artinya merasa menang di depan istri. Karena itu sebaik-baik sikap adalah mengalah dan bersikap perhatian dengan penuh kebapakan. Sebab ketika sang istri ngomel ia sangat membutuhkan sikap kebapakan seorang suami. Ada pepetah mengatakan: jadilah air ketika salah satunya menjadi api.


Keduabelas, Jarang Komunikasi

Banyak para istri merasa kesepian ketika sang suami pergi atau di luar rumah. Sebaik-baik suami adalah yang selalu mengontak sang istri. Entah denga cara mengirim sms atau menelponnya. Ingat bahwa banyak masalah kecil menjadi besar hanya karena miskomunikasi. Karena itu sering berkomukasi adalah sangat menentukan dalam kebahagiaan rumah tangga.

Banyak para istri yang merasa jengkel karena tidak pernah dikontak oleh suaminya ketika di luar rumah. Sehingga ia merasa disepelekan atau tidak dibutuhkan. Para istri sangat suka kepada para suami yang selalu mengontak sekalipun hanya sekedar menanyakan apa kabarnya.


Ketigabelas, Tidak Rapi dan Tidak Harum

Para istri sangat suka ketika suaminya selalu berpenampilan rapi. Nabi adalah contoh suami yang selalu rapi dan harum. Karena itu para istrinya selalu suka dan bangga dengan Nabi. Ingat bahwa Allah Maha indah dan sangat menyukai keindahan. Maka kerapian bagian dari keimanan. Ketika seorang suami rapi istri bangga karena orang-orang pasti akan berkesan bahwa sang istri mengurusnya. Sebaliknya ketika sang suami tidak rapi dan tidak harum, orang-orang akan berkesan bahwa ia tidak diurus oleh istrinya. Karena itu bagi para istri kerapian dan kaharuman adalah cermin pribadi istri. Sungguh sangat tersinggung dan tersiksa seorang istri, ketika melihat suaminya sembarangan dalam penampilannya dan menyebarkan bahu yang tidak enak. Allahu a’lam







Dakwatuna.com

Minggu, 17 Agustus 2008

Merdeka


Jika kemerdekaan ini teranalogikan sebagai setumpuk kayu bakar

Ia baru akan berguna ketika sudah diterjang api yang membara

Walau hangus terbakar menjelma abu

Telah ia memberikan hangat dan terang yang benderang kepada para belantara


Pontianak, 17 Agustus 2008

(Untuk sebuah kemerdekaan yang dijanjikan)

Minggu, 20 Juli 2008

Akhwat ikut audisi?


Sebuah konsultasi seorang akhwat seputar audisi Ketika Cinta Bertasbih. Yuk kita simak, siapa tau bermanfaat..(www.eramuslim.com)

Pertanyaan :

Seiring dengan antusias nya orang-orang yang ingin mengikuti audisi ketika cinta bertasbih, saya ingin menanyakan, bagaimana dalam Islam hukumnya ketika seorang akhwat (yg (*semoga) berpemahaman ISlam, dan menutup aurat sesuai syari'at Islam)??

Dalam pandangan Islam, apakah akhwat tersebut telah mengurangi dalam menjaga keiffahannya?

Saya mohon penjelasannya secepat mungkin, sebelum pelaksanaan audisi tersebut dilaksanakan.

Akhwat


Bersama Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc.

Ustadz Menjawab,
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Film Ketika Cinta Bertasbih adalah film yang disutradarai oleh seorang ikhwah dan aktifis dakwah, yaitu Al-Akh Chaerul Umum. Kami secara akrab biasa menyapa beliau dengan sapaan "Mas Mamang." Beliau adalah seorang aktifis dakwah yang kami kenal secara pribadi sejak tahun 1990-an.

Bahkan dahulu kami sendiri banyak beliau libatkan dalam beberapa produksi, seperti film Fatahillah (1997) yang dibintangi oleh Igo Ilham.

Bahkan kami diminta untuk menyampaikan materi pengajian buat seluruh kru dan bintang film tentang pahlawan kota Jakarta itu, yang sebagian shuyingnya mengambil lokasi di pantai Lombang Cirebon.

Kru Setengah Wali

Team work yang Mas Mamang bikin memang unik, lebih merupakan jamaah pengajian dari pada kru film. Bahkan saat itu kami masih ingat, syuting di bulan Ramadhan dan luar biasa, semua kru tidak ada satu pun yang bolong puasanya. Setiap malam para kru ikut tarawih lengkap dengan kultumnya. Begitu juga dengan sahur dan shalat shubuh, semua ikut shalat jamaah.

Sangat jauh dibandingkan dengan kru film umumnya, yang kalau break, mereka sibuk dengan berbagai hiburan, Mas Mamang malah menghadirkan banyak ustadz, seperti Al-Ustadz Abu Ridho, Al-Ustadz Ridwan, Al-Ustadz Ihsan Tandjung, Al-Ustadz Hidayat Rahim dan lainnya.

Mas Mamang lama berkecimpung di dunia dakwah dan masih tetap aktif di pengajian dan majelis taklim. Beliau banyak menimba ilmu dari para ustadz sejak masa kecilnya hingga sampai saat ini pun masih lebih sering ketemu para ustadz dari pada kamera film.

Yang kami ketahui saja, beliau punya ustadz favorite, yaitu almarhum Al-Ustadz Rahmat Abdullah, yang termasuk guru dan ustadz kami juga. Selain itu beliau juga banyak menimba ilmu dari para masyaikh seperti Al-Ustadz Abu Ridho.

Banyak film Islami yang telah beliau hasilkan. Bahkan boleh dibilang beliau adalah spesialis film Islami. Sebab hampir semua filmnya memang selalu bercerita tentang Islam. Berbeda dengan kisah Hanung Bramantio yang menurut pengakuannya sendiri baru sadar untuk bikin film Islam hanya ketika membuat film Ayat-ayat Cinta.

Sedangkan Mas Mamang justru sejak awal masuk ke dunia film sudah punya keinginan membara untuk berdakwah lewat film. Ketika kami masih kecil, kami masih ingat pernah diajak nonton film Islami yang berjudul "Al-Kautsar" yang diproduksi tahun 1977. Wah, kami masih kecil saja beliau sudah bikin film Islami.

Film dakwah beliau lainnya adalah "Titian Rambut Dibelah Tujuh" yang diproduksi tahun 1982. Ada juga film beliau dengan Bang Haji Rhoma Irama dan Kiyai Zaenudin MZ, yaitu Nada dan Dakwah, produksi tahun 1992.

Film Ketika Cinta Bertasbih

Sesaat sebelum berangkat ke Cairo, kami sempat berteleponan dengan sutradara yang berdahi hitam karena banyak sujud ini. Beliau bilang bahwa Al-Ustadz Abu Ridho pun diajak juga berangkat ke Mesir. Jadi amanlah, kalau sebuah film sudah dikawal oleh tokoh selevel ustadz itu.

Maka sepanjang yang kami ketahui dari semua pengalaman ini, rasanya tidak ada kurangnya bila seorang akhwat yang punya bakat di bidang film dan dunia akting, untuk ikutan juga dicasting. Mengingat team ini bukan sembarang team. Ceritanya juga cerita yang sudah jaminan mutu. Apalagi lokasinya yang sangat menarik, Mesir dengan sejuta pesonanya.

Tentu yang penting motivasinya. Jangan sekali-kali motivasinya hanya sekedar mencari polularitas, kekayaan, atau sekedar karir. Motivasinya harus semata-mata karena Allah SWT, bukan karena yang lain. Karena ingin berdakwah dan menghidupkan dakwah lewat film. Bukan sekedar untuk main film dan jadi bintang ngetop, lalu jadi artis yang lupa hakikat dan tugas seorang wanita.

Dan yang lebih penting komitmen dalam implementasi syariah. Percuma kita bikin film Islami, tapi dalam prakteknya justru malah penuh dengan execuse dan pembolehan-pembolehan yang tidak memenuhi syarat. Ini yang tetap harus dijaga dan wajib dipegang teguh.

Satu catatan yang pernah kami alami, memang Mas Mamang itu aktifis dakwah, sehingga beliau amat paham dengan aturan syar'i. Namun namanya juga perusahaan filmnya bukan milik beliau, maka pengaruh yang bisa beliau lakukan pasti ada batasnya. Bisa saja tidak semua kru itu seutuhnya aktifis dakwah juga.

Mungkin ada juga beberapa yang 'orang luar' yang masih belum sempurna implementasi syariah Islam. Kondisi seperti ini masih mungkin terjadi, bahkan di mana pun pasti akan kita temukan. Dan jangan langsung divonis negatif dulu. Sebab justru inilah kesempatan untuk berdakwah dan mengajak berbagai kalangan untuk lebih mengenal Islam.

Semoga lulus casting, kalau udah jadi bintang, jangan lupa shalat dan terus ngaji.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kamis, 10 Juli 2008

Sebuah Doa Yang Baik..


Suatu ketika, beberapa anak mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.Ada seorang anak bernama Ahmad. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final.


Dibanding semua lawannya, mobil Ahmad lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 "pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.


Namun, sesaat sebelum mulai, Ahmad meminta waktu sebentar untuk berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang bertangkup memanjatkan doa.


Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!".


Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. "Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka. Ahha..!! sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Ahmad lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Ahmad. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Alhamdulillah, terima kasih."


Saat pembagian piala tiba. Ahmad maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya.


"Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Allah swt agar kamu menang, bukan?".


Ahmad terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Ahmad.

Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Allah swt untuk menolongmu mengalahkan saudaramu yang lain. "Aku, hanya bermohon pada Allah swt, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."


Semua hadirin terdiam mendengar itu.


Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.


Sumber : Aldakwah.org

Sabtu, 21 Juni 2008

Apakah Menulis Puisi Gampang? Part 2


Banyak jalan menuju Roma. Beribu cara untuk menciptakan puisi. Salah satu kiat jitu yang kerap diakui (baik tua maupun muda dan pemula) adalah jatuh cinta. Bukankah orang yang sedang kasmaran gampang menulis puisi? Seperti puisi ”Surat Cinta” Rendra, berikut ini:

Engkau adalah putri duyung
T
ergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku.


Jadi, dengan menumpahkan isi hati di atas secarik kertas dengan kata-kata indah dan terpilih, tulisan akan menjelma puisi. Atau, silakan tulis surat cinta dengan kalimat-kalimat berbunga, dengan bentuk larik dan bait puisi, ya, dapat juga disebut puisi. Artinya, semakin sering jatuh cinta, tentu semakin terangsang untuk menulis puisi lebih banyak. Semakin banyak jatuh cinta, semakin banyak stock puisi yang akan tersedia. Semakin banyak rasa cinta kita kepada Allah SWT maka akan semakin banyak bentuk rasa syukur dan pujian kepada Allah yang kita goreskan dalam sebentuk pena. Ya namanya jatuh cinta tak harus kepada lawan jenis, sebagaimana yang sering terjadi di masa sekarang. Luapan rasa cinta kepada sahabat, guru, orang tua dan para orang-orang sholeh tentunya juga bisa terabadikan dalam goresan pena.


Berarti, puisi itu dapat dihasilkan oleh siapa pun, yang bukan penyair? Benar. Siapa pun boleh menulis puisi -- tidak sebatas penyair semata. Tidak ada syarat atau batasan tertentu untuk dapat menulis puisi. Pencopet, penodong, pedagang asongan, petani, polisi, politikus, penipu, penjudi, pengusaha menengah, bankir, konglomerat, pengamen, boleh menulis puisi, tak ada larangan atau kutukan. Tak perlu takut dan frustasi. Puisi itu bukan kuntilanak atau momok hitam yang menakutkan. Jadi, tulislah puisi semampu dan seluas jangkauan dan wawasan.

Jika puisi yang ditulis dinilai orang jelek, tak perlu berduka dan frustasi. Terus saja menulis puisi, meski belum memenuhi kaidah-kaidah puitis. Ciptakan terus, tanpa henti – toh masih ada hari esok menanti untuk puisi yang (mungkin) lebih baik. Sejelek apa pun puisi yang dibuat, kata Tardji, tetap saja puisi. Tetapi, silakan renungkan sendiri, termasuk kategori puisi apa? Puisi asal jadi? Puisi basi? Adakah berisi tanda? Atau sekadar corat-coret penumpahan isi hati?

Ingat, puisi bukan alat propaganda, bukan sarana pelepasan kegalauan, bukan pula tong sampah unek-unek.Meski bahasa puisi dan bukan puisi terasa cair; sesungguhnya puisi, sesederhana apa pun, harus penuh dengan ambiguitas dan homonim, penuh dengan asosiasi, memiliki fungsi ekspresif, menunjukkan nada dan sikap—mengutamakan tanda. Masalah ini dipertegas Rene Wellek & Austin Warren, bahasa puisi penuh pencitraan, dari yang paling sederhana sampai sistem mitologi (1993:20). Sementara Sapardi Djoko Damono memberi pengertian lebih sederhana, bahwa puisi adalah ”ingin mengatakan begini, tetapi dengan cara begitu.”

Jika demikian, puisi yang tidak dipenuhi tanda, belum layak disebut puisi? Ingat pendapat Tardji, tetap puisi. Tetapi puisi sesaat; sekali cecap langsung tak bermanfaat. Puisi donat. Seperti puisi yang dibuat anak kelas empat SD, tetap saja disebut puisi.


Itu pula alasan Tardji membagi puisi berdasarkan fungsinya. Jika seseorang menulis puisi untuk kebutuhan sesaat, ya, cuma sebatas itu manfaatnya.

Puisi itu akan segera tersapu angin dan hujan. Sebaliknya, jika puisi diciptakan berdasarkan perenungan mendalam, tanpa dipengaruhi kebutuhan apa pun, akan menjadi puisi sejati. Contohnya puisi-puisi Chairil Anwar. ”Maka, sangat disayangkan, bila ada penyair yang menulis puisi dengan memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu,” imbuhnya.


Sekilas pendapat ini bertentangan dengan kesimpulan Wellek & Warren, bahwa tipe-tipe puisi harus memakai paradoks, ambiguitas, pergeseran arti secara konstektual, asosiasi irasional, memperkental sumber bahasa sehari-hari, bahkan dengan sengaja membuat pelanggaran-pelanggaran. Tetapi, bila dicermati, pendapat Tardji lebih mudah dimengerti dan lebih menegaskan atas keluhan penyair-penyair muda, ”Ada juga puisi pesanan. Puisi yang ditulis oleh penyair untuk kebutuhan, momen atau acara tertentu dengan bayaran tertentu pula.”


Bertitik tolak dari pendapat ini, berarti menulis puisi teramat sulit-lit. Tidak cukup dengan mengamati peristiwa-peristiwa yang ada. Menulis puisi harus penuh perenungan, mendasar dan berdasar. Bahkan, terkadang harus mengalami trance. Apa yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, tidak serta merta dapat dijadikan puisi, melainkan harus dikaji, diendapkan, direnungkan secara mendalam. Untuk menulis sebuah puisi saja, sering penyair harus melalui proses sepekan, setahun, sepuluh tahun. Itu pula sebabnya, bila dibandingkan dengan karya seniman lain, sepertinya daya kreativitas penyair dalam berkarya sangat tertinggal jauh. Sebab, setiap penyair (sejati), meski telah berkarya secara maksimal seumur hidupnya, tak dapat menghasilkan seabrek puisi. Bahkan, tak sedikit penyair seumur hidupnya cuma mampu menulis beberapa puisi, misalnya Toto Sudarto Bachtiar, Subagio Sastrowardoyo, JS Tatengkeng.

Lalu, masihkah dapat disebut menulis puisi itu gampang? Ada yang menjawab, tergantung kata hati. Ada juga yang menyebut, tanyakan daun-daun yang berguguran. Bahkan, ada pendapat lebih ekstrem, tanyakan pejabat atau konglomerat yang getol bikin puisi, lalu menerbitkan seabrek buku puisi (persis album rekaman dangdut) dan membuat album dangdut puisi atau puisi dangdut yang dipasarkan door to door dengan pelbagai alasan sosial, kemanusiaan dan pengabdian. Ayo, siapa ikut bergoyang puisi?

Penulis adalah pekerja seni.

Apakah Menulis Puisi Gampang? Part 1


Browsing-browsing di suatu siang yang panas, ketemu dengan sebuah artikel bagus. Artikel ini ditulis oleh Maroeli Simbolon, S.Sn. Tanpa mengurangi rasa hormat, tulisan di blog ini sudah mengalami beberapa perubahan dan pengeditan, dengan judul yang sama dengan aslinya.

….bulan di atas kuburan…..

Demikian isi puisi ”Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisi sebaris, teramat pendek, dan sederhana yang menimbulkan polemik. Di antaranya, banyak bersuara nyinyir, ”Cuma sebegitukah menulis puisi? Sesederhana itukah puisi? Berarti, gampang menulis puisi -- tak perlu sampai ‘berdarah-darah’ dan samedhi.” Benarkah demikian?
Bagi penyair, puisi adalah kebanggaannya, aliran darahnya, pelepasan ekspresinya, kepribadiannya, ciri khasnya, napas hidupnya – bahkan, sarana mencari sesuap nasi. Penyair menjadi mati – disebut tak berkarya – jika tidak menulis puisi. Sekian banyak kredo yang disampaikan penyair untuk menguatkan puisi -- seperti kredo Sutan Takdir Alisyabana, Chairil Anwar, dan Sutardji Calzoum Bachri; dan bejibun arti yang dikemukakan para ahli mengenai puisi, tetapi bagi orang awam, puisi adalah puisi – barisan kata dan kalimat yang mempunyai bait, rima, irama, dan sebagainya. Artinya, puisi tidak sepenting doa atau kitab suci.

Suatu malam, di salah satu kafe di Taman Ismail Marzuki, Sutardji Calzoum Bachri membenarkan bahwa menulis puisi itu gampang. ”Bahkan, apa pun bisa ditulis jadi puisi,” katanya. Wah!

Sang maestro ini menjelaskan bahwa segala kejadian yang ada, baik di sekitar maupun jauh dari kita, dapat ditulis menjadi puisi. Juga, peristiwa yang terjadi sesaat, seperti tabrakan kereta, pesawat jatuh, bom meledak, bisa dijadikan puisi. Sebab, puisi tak jauh beda dengan tulisan-tulisan lainnya, seperti laporan wartawan atau berita yang tertulis di koran, mengenai politik, sosial, ekonomi, demonstrasi. ”Sehingga ada penyair yang cuma memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu untuk menulis puisi,” katanya.

Banyak yang terkejut dan meragukan pendapatnya ini. Meski Tardji diakui sebagai presiden penyair, bukan berarti perkataan presiden adalah sabda atau firman – yang tidak ada salah atau cacatnya. Pernah, pada suatu kesempatan Sutardji Colzoum Bachri, menunjuk sepotong koran yang tergeletak di atas meja seraya menjelaskan bahwa berita-berita itu dapat menjadi puisi bila dibacakan dengan teknik puisi.

Serta merta salah seorang temannya tertarik, meraih koran itu dan membaca sepenggal beritanya, dengan artikulasi dan intonasi membaca puisi. Apa yang terjadi? Tardji tersenyum. Dan teman-teman senimannya memperhatikan dengan mangut-mangut. Merasa belum cukup, salah seorang itu membaca dua lembaran besar menu makanan dan minuman yang tergantung di dinding kafe itu dengan artikulasi dan intonasi yang sama dalam pembacaan puisi:

Nasi Goreng Es Campur
Pecel Lele Wedang Jahe
Soto Babat Es Jeruk
Ikan Bakar Kopi Susu
Sate Kambing Jus Nenas

Mendengar itu, Tardji tertawa. Dan teman-teman seniman bertepuk tangan.

IF..ada lho penyair 2 muda, seperti Yonathan Rahardjo, yang sering menulis puisi dengan memasukkan jenis-jenis makanan dan minuman masyarakat kita sehari-hari, seperti ketupat, lepat, peyek, bandrek, pisang goreng.

Lebih ekstrem lagi alm. Saut Sitompul, berhasil menulis apa pun jadi puisi, bahkan menganjurkannya. Seperti isi salah satu puisinya:
ada daun jatuh, tulis/ada belalang terbang, tulis…

Jadi, benarkah segala sesuatu (persoalan) dapat dijadikan puisi? Tak perlukah bersusah payah menulis puisi? Tak perlukah merenung di gunung dan berpuasa setahun untuk membuat puisi? Tak perlukah perenungan, pendalaman dan pemadatan makna?
Tergantung pencipta puisi itu sendiri. Tetapi, siapa yang keberatan, jika apa saja yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, lalu ditulis dengan bentuk puisi, lalu dinobatkan sebagai puisi? Jika semua masalah ditulis dengan berbentuk bait puisi, adakah yang melarang? Itu hak asasi seseorang. Hak berpendapat. Hak berekspresi. Hak berkarya. Bila akhirnya puisi yang dihasilkan itu dianggap tak berguna, ya, terserah. Jika pun orang-orang menganggap rada gila, ya, biarkan saja. Bukankah penyair besar sering bertingkah aneh-aneh, misalnya mabok bir, bawa kapak, buka baju dan bergulingan di atas panggung kala baca puisi? Lagi pula, entah apa dasar hukumnya, untuk dapat diakui penyair, seseorang harus berani bertindak rada gila; seperti teriak-teriak di keramaian, baca puisi di atas pohon? Semuanya demi puisi, demi puisi. Demikian anehkah puisi?..

(to be continued.....)