Minggu, 20 Juli 2008

Akhwat ikut audisi?


Sebuah konsultasi seorang akhwat seputar audisi Ketika Cinta Bertasbih. Yuk kita simak, siapa tau bermanfaat..(www.eramuslim.com)

Pertanyaan :

Seiring dengan antusias nya orang-orang yang ingin mengikuti audisi ketika cinta bertasbih, saya ingin menanyakan, bagaimana dalam Islam hukumnya ketika seorang akhwat (yg (*semoga) berpemahaman ISlam, dan menutup aurat sesuai syari'at Islam)??

Dalam pandangan Islam, apakah akhwat tersebut telah mengurangi dalam menjaga keiffahannya?

Saya mohon penjelasannya secepat mungkin, sebelum pelaksanaan audisi tersebut dilaksanakan.

Akhwat


Bersama Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc.

Ustadz Menjawab,
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Film Ketika Cinta Bertasbih adalah film yang disutradarai oleh seorang ikhwah dan aktifis dakwah, yaitu Al-Akh Chaerul Umum. Kami secara akrab biasa menyapa beliau dengan sapaan "Mas Mamang." Beliau adalah seorang aktifis dakwah yang kami kenal secara pribadi sejak tahun 1990-an.

Bahkan dahulu kami sendiri banyak beliau libatkan dalam beberapa produksi, seperti film Fatahillah (1997) yang dibintangi oleh Igo Ilham.

Bahkan kami diminta untuk menyampaikan materi pengajian buat seluruh kru dan bintang film tentang pahlawan kota Jakarta itu, yang sebagian shuyingnya mengambil lokasi di pantai Lombang Cirebon.

Kru Setengah Wali

Team work yang Mas Mamang bikin memang unik, lebih merupakan jamaah pengajian dari pada kru film. Bahkan saat itu kami masih ingat, syuting di bulan Ramadhan dan luar biasa, semua kru tidak ada satu pun yang bolong puasanya. Setiap malam para kru ikut tarawih lengkap dengan kultumnya. Begitu juga dengan sahur dan shalat shubuh, semua ikut shalat jamaah.

Sangat jauh dibandingkan dengan kru film umumnya, yang kalau break, mereka sibuk dengan berbagai hiburan, Mas Mamang malah menghadirkan banyak ustadz, seperti Al-Ustadz Abu Ridho, Al-Ustadz Ridwan, Al-Ustadz Ihsan Tandjung, Al-Ustadz Hidayat Rahim dan lainnya.

Mas Mamang lama berkecimpung di dunia dakwah dan masih tetap aktif di pengajian dan majelis taklim. Beliau banyak menimba ilmu dari para ustadz sejak masa kecilnya hingga sampai saat ini pun masih lebih sering ketemu para ustadz dari pada kamera film.

Yang kami ketahui saja, beliau punya ustadz favorite, yaitu almarhum Al-Ustadz Rahmat Abdullah, yang termasuk guru dan ustadz kami juga. Selain itu beliau juga banyak menimba ilmu dari para masyaikh seperti Al-Ustadz Abu Ridho.

Banyak film Islami yang telah beliau hasilkan. Bahkan boleh dibilang beliau adalah spesialis film Islami. Sebab hampir semua filmnya memang selalu bercerita tentang Islam. Berbeda dengan kisah Hanung Bramantio yang menurut pengakuannya sendiri baru sadar untuk bikin film Islam hanya ketika membuat film Ayat-ayat Cinta.

Sedangkan Mas Mamang justru sejak awal masuk ke dunia film sudah punya keinginan membara untuk berdakwah lewat film. Ketika kami masih kecil, kami masih ingat pernah diajak nonton film Islami yang berjudul "Al-Kautsar" yang diproduksi tahun 1977. Wah, kami masih kecil saja beliau sudah bikin film Islami.

Film dakwah beliau lainnya adalah "Titian Rambut Dibelah Tujuh" yang diproduksi tahun 1982. Ada juga film beliau dengan Bang Haji Rhoma Irama dan Kiyai Zaenudin MZ, yaitu Nada dan Dakwah, produksi tahun 1992.

Film Ketika Cinta Bertasbih

Sesaat sebelum berangkat ke Cairo, kami sempat berteleponan dengan sutradara yang berdahi hitam karena banyak sujud ini. Beliau bilang bahwa Al-Ustadz Abu Ridho pun diajak juga berangkat ke Mesir. Jadi amanlah, kalau sebuah film sudah dikawal oleh tokoh selevel ustadz itu.

Maka sepanjang yang kami ketahui dari semua pengalaman ini, rasanya tidak ada kurangnya bila seorang akhwat yang punya bakat di bidang film dan dunia akting, untuk ikutan juga dicasting. Mengingat team ini bukan sembarang team. Ceritanya juga cerita yang sudah jaminan mutu. Apalagi lokasinya yang sangat menarik, Mesir dengan sejuta pesonanya.

Tentu yang penting motivasinya. Jangan sekali-kali motivasinya hanya sekedar mencari polularitas, kekayaan, atau sekedar karir. Motivasinya harus semata-mata karena Allah SWT, bukan karena yang lain. Karena ingin berdakwah dan menghidupkan dakwah lewat film. Bukan sekedar untuk main film dan jadi bintang ngetop, lalu jadi artis yang lupa hakikat dan tugas seorang wanita.

Dan yang lebih penting komitmen dalam implementasi syariah. Percuma kita bikin film Islami, tapi dalam prakteknya justru malah penuh dengan execuse dan pembolehan-pembolehan yang tidak memenuhi syarat. Ini yang tetap harus dijaga dan wajib dipegang teguh.

Satu catatan yang pernah kami alami, memang Mas Mamang itu aktifis dakwah, sehingga beliau amat paham dengan aturan syar'i. Namun namanya juga perusahaan filmnya bukan milik beliau, maka pengaruh yang bisa beliau lakukan pasti ada batasnya. Bisa saja tidak semua kru itu seutuhnya aktifis dakwah juga.

Mungkin ada juga beberapa yang 'orang luar' yang masih belum sempurna implementasi syariah Islam. Kondisi seperti ini masih mungkin terjadi, bahkan di mana pun pasti akan kita temukan. Dan jangan langsung divonis negatif dulu. Sebab justru inilah kesempatan untuk berdakwah dan mengajak berbagai kalangan untuk lebih mengenal Islam.

Semoga lulus casting, kalau udah jadi bintang, jangan lupa shalat dan terus ngaji.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

3 komentar:

abiyasa-fathimatulazizah mengatakan...

perlu dikembangkan syiar lewat film.. :)

abiyasa-fathimatulazizah mengatakan...

perlu dikembangkan syiar lewat film.. :)

Anonim mengatakan...

saya sudah lihat trailer film KCB. Kemudian saya tertarik membaca novelnya. Ternyata memang mengharu biru.

Hmm, kalau boleh saya bertutur dari hati terdalam, pameran ukhty Oki (Anna) dengan paras yg teramat cantik, manis, lembut, anggun, berjilbab rapi, mhswi cerdas UI, mengganggu hati saya.

Siapa yg kemudian tak mengimpikan mendapatkan wanita seperti itu ? Semakin sering beliau tampil di layar monitor, semakin lain rasanya di hati ini.

Nah, apakah suasana hati spt ini membuat saya makin taqwa, ataukah sebaliknya membuat saya berdosa?

Maka menurut saya, sebaiknya tak usah akhwat cantik ditampilkan begini rupa. Tak semua orang bisa berghadul bashar. Nah kalao begini salah siapa ???

Bukankah di kampus, para ADK terbiasa utk tidak saling melihat wajah waktu berbicara, malah pakai hijab segala. Kenapa pas di TV ditampilkan demikian rupa?

(M. Urid/ FMIPA UGM-TU Delft)