"Ku merindukan sebuah Concerto Angkasa Raya...dengan ribuan Malaikat bertasbih memuja nama-Nya. Inilah gaung Selebritis Syurga. Allah sebagai pusat orbitnya...."
Kamis, 03 Maret 2011
Larik Sajadah
Diatas sajadah beragam manusia ditempa. Adakalanya mereka bertengger sebentar untuk kemudian bersegera berdiri dan pergi. Ada juga dr mereka yang tengah dibebankan persoalan hidup tingkat tinggi sehingga terpekurlah dirinya dalam guguk haru diatas kain itu.
Adakah yang merindukan potongan sajadahnya? Adakah yang merasakan begitu berbekasnya mereka dgn pengalaman bersama sang sajadah?
Diatas sepotong sajadah. Ada keharuan atas hubungan vertikal yang tercipta. Dan kembali...setiap jengkal tubuh merapat pada-Nya.
(pontianak, 1 maret 2011. 08.49 a.m). Saat 6 kata tertuang..
Epitaph terakhir mu, "teman"...
"Jangan mentang2 x x x x x x lalu dgn mudahnya x x x x x x x. Percume punye segalenye. Tapi tak ade manfaatnye"
percume punye segalenye. Tapi tak ade manfaatnye. Percume punye segalenye. Tapi tak ade manfaatnye. Percume punye segalenye. Tapi tak ade manfaatnye. Percume punye segalenye. Tapi tak ade manfaatnye---> menggaung terus bak bola bekel, berpantulan disekeliling sebutir kepala..
(28 Februari 2011, 12.04 p.m)
Sajak sepotong catatan
Pikir menjauh dan terbang saja melewati lautan. Biarkan mata terus terbuka.. Cukuplah sudah kita bersangkakan baik dalam perasaan dan perbuatan. Malang akhirnya tetap diluka...
Slamat tinggal seroja malam.. Tenunan kain iringkan ucapan permaafan.. Kini 7 alfabet kulipat dalam genggaman. Untuk kutaburkan jauh jauh di lautan yang dalam...
(pontianak, 28 Februari 07.16 a.m)
Rabu, 02 Maret 2011
KANVAS KELABU
Dua telinga dua mata. Berkejora kelap kelip bergelayutan di semak-semak harapan. Aku adalah godam puisi. Menghalau keping-keping ketidakpuasan menjadi alat ukur pasti... Apa kabar hati yang berlubang? 1 tetes gigilan embun mampu menyembuhkan, bukan? Warna-warna cerah tergores patah-patah di balik kanvas kelabu... Pelangi pucat menceruat. Dan tangis menjadi badai kedua...
Sekarang mari paparkan wajah ke langit.. Tundukkan dan hirup aroma mayang ini. Sejuta jiwa-jiwa alam. Masih butuh orang-orang seperti kita. Percayalah....
Kamis, 21 Oktober 2010
Dera waktu. Dera nyawa
Pundi pundi waktu tak layak bertaburan disini.. Saat selancar hari berhembus dalam awalnya yang pelan....kemudian ia melaju kencang..
Gelap!
Sepotong tulang ini semakin memutih..
Bola mata mengembun..
Nanar merintih,
mengingat uban menjadi petaka sbg simbol senjanya diri. . .
Andai kereta mentari bisa ditarik ulur, wahai pencipta..
Izinkan kami merangkak dalam harap. . .
Kembalilah sayap waktu, jangan terkepak menjauh dan mematikan hasrat ...
Kini siapa yang bodoh?
Siapa yang lalai?
Siapa yg merugi?
Siapa yang dibunuh zaman?
Kasihannya engkau wahai diri..
Pundi-pundi waktu tak layak berceceran disini..
Ia selamat ditangan si bijak berilmu...
Ia hidup di hati manusia-manusia pedzikir..
Yang membariskan waktu dalam hitungan..
Saat sejuta didera waktu, didera nyawa.. Kuharap aku bisa menjadi salah satu.. Dari si bijak berilmu itu
Senin, 24 November 2008
Untukmu Mujahidin Bosnia


KISAH SUBUH
Aku lelaki dengan senjata M-16 di tangan
Mengoyak malam dan menggapai subuh
Dengan satu tujuan
Melangkah pasti
Menyusuri Camp
Merangkak diantara kawat berduri
Dengan gemuruh Bismillah di dalam dada!
Aku, lelaki dengan senjata M-16 di tangan
Kupancangkan “Torpedo Bongalore”
Dan kupersiapkan sebongkah keberanian
Merayap di tanah-tanah yang terbelah
Bersiap!
Menghadap moncong-moncong senapan Yahudi yang kehausan
Ataupun anjing-anjing lapar yang siap memakan
Mayat-mayat Muslim Bosnia
Aku! Lelaki dengan senjata M-16 di tangan
Telah hilang nyawa anak-anakku
Telah lenyap kehormatan istriku!
Telah nyata proyek Islamic Cleansing itu….
Perang ini..adalah sebuah keniscayaan
Atas pembantaian setan-setan Serbia
Yang menggerayangi tanah dan rumah-rumah kami
Janji Allah,
Pasti datang jua
Melalui tangan ini,
Kuperjuangkan pasti
Sebuah kemerdekaan
Sebuah kehormatan
Setitik kemuliaan
Inilah, sebuah kisah
Kisah subuh
Di Kamp Vorgij Fuka
Kamis, 20 November 2008
Listen to your heart
The pray has mentionedThe word has begun
And it wishes to be done
The chamber has opened
The curtain was already swing away
And wish the God (Allah SWT)
spells the sentences
in a holy place called 'Arsy
Let the pray become real
to the pure heart of servants
who is talking to the God
and hoping it becomes come true
(Ni puisi mi spesialkan buat Teh Ina Ijo yang bentar lagi...)
Minggu, 17 Agustus 2008
Merdeka

Jika kemerdekaan ini teranalogikan sebagai setumpuk kayu bakar
Ia baru akan berguna ketika sudah diterjang api yang membara
Walau hangus terbakar menjelma abu
Telah ia memberikan hangat dan terang yang benderang kepada para belantara
Pontianak, 17 Agustus 2008
(Untuk sebuah kemerdekaan yang dijanjikan)
Selasa, 22 April 2008
Mihrab malam


Wahai penghuni langit yang jauh............
Tolong sibakkan tabir putih ini
Ada sapaan lembut yang harus ku rengkuh
Sebagai penepatan ikrar abadi
Manusia malam
Ada yang tak akan pernah mengingkari sumpahnya
Sebagai jawaban tergoresnya takdir
Yang masih aku masuki lorong gelapnya
Hingga terang di balik sayapnya
Berlutut dan sujud
Mengunjungi mihrab malam..................
Minggu, 13 April 2008
AS YOU LIKE IT

Thou art not so unkind
As man’s ingratitude
Thy tooth art not so keen,
Because thou art not seen,
Although thy breath be rude
Heigh-ho! Sing heigh ho! Unto the green holly :
Most friendship is feigning, most loving mere folly
Then heigh-ho, the holly!
This life is most jolly!
Freeze, freeze, thou bitter sky,
That dost not bite so nigh
As benefits forgot:
Though thou the waters wrap,
Thy sting is not sharp
As friend remember not
Heigh-ho! Sing heigh-ho! Unto the green holly :
Most friendship is feigning, most loving mere folly
Then heigh-ho, the holly!
This life is most jolly!
Poet: William Shakespeare
Sabtu, 05 April 2008
"RIMBA TEMPAT AKU BERNAFAS"

Aku tergeletak kaku diantara akar-akar pohon tajam
Meronta-ronta mengharap belas kasihan pertolongan sang kehidupan
Kenapa tak ada yang balas teriak?
Kenapa tak ada yang lepaskan kesakitan?
Inilah rimba tempat aku bernafas….
Saat halilintar menyambar pohon pinus yang kini kering kerontang kehitaman
Aku tertawa tuk kemudian menjerit ketakutan Inilah episode baru saat aku yakin nyatanya sebuah kematian
Yakin akan nyatanya sebuah keabadian
Ku masih disini Rimba tempat aku bernafas
Saat hujan menderas dan memekik seantero hutan
Bunga-bunga yang kemarin indah kini mematung dan mati
Kehidupan tinggallah maya
Dan bayangan gelap kan menggantikannya
Ternyata kumasih disini
Rimba tempat aku bernafas
“Sebuah sajak goresan hati, tuk semakin memaknai indahnya arti sebuah kehidupan…..”
Selasa, 25 Maret 2008
ENGKAU MENJAGAKU!


Puisi ini dikirimkan oleh seseorang yang mencintai Rabb-Nya dan mengajarkan padaku arti sebuah perlindungan dan rasa aman..Terima kasih sahabat............
Aku terjaga!
Setelah berkali-kali tertidur!
Mataku tertutup!
Telingaku tertutup!
Hatiku tertutup!
Setelah sekian lama
Aku menyadari
Bahwa diriku tidaklah sendirian
Ada Dzat yang terus menjagaku
Memelihara imanku
Menjaga langkah-langkahku
Betapun jauhnya jalanku
Sekalipun asingnya perilakuku
Dia lah Al-Hafidz
Yang Maha Menjaga
Menjagaku dalam setiap langkah
Dalam kesesatanku Dia lah yang menunjukiku
Tatkala aku mengasingkan diri, Dialah yang mengembalikanku
Kian hari kian terasa
Betapa diriku selalu dijaga-Nya
Aku tersanjung karenanya
Sekalipun kusadari
Diriku belumlah layak mendapatkannya
Karena masih sedikitnya dzikirku pada-Mu
Banyaknya kelalaianku
Lambatnya ketaatanku
Tetapi berkali-kali aku tersadar
Bahwa diriku tidaklah sendirian
Ada yang menjagaku!
Muharram 1429 H
Kamis, 31 Januari 2008
eX-Ex-eX (part II)
Jika Duka berbilang..
Tuhan.....
Jika duka berbilang
Jangan dulu kau tiup awan-awan
Karena masih kutatap burung-burung berselimut dedaunan
beriring-iring, berformasi walau dalam diam
Tuhan,
Jika yang kau tetapkan ini adalah sebuah kebaikan
Rapikan lagi, Tuhan....
Asa jiwaku yang telah berderak bergelimpangan
Agar tak luluh peri kecil ini di telan arus keputus asaan
Jika duka berbilang
Tak ingin aku lepas dari janjiMu Tuhan..........
Dec, 5 2006
eX-Ex-eX

Buka-buka Diaryku 2 tahun lalu, kutemukan lembaran ini..goresan kecil yang maknanya kembali hadir dan lahir. Menyapa kembali arti keakuan diri...
Kuasa kutahanpun ia akan terus mengaduh
Bagaimana tak bimbang
Bagaimana tak mungkin jeri
Rupa yang kini tergantikan bimbang,
Tak lagi memoles senyum peri
Kenapa mereka gantikan tangis
Setelah dulunya tawa?
Kuyakin harap sedang bersembunyi
Namun tetap ku tak yakin dia akan kembali
Duhai Allah
Genggamlah hati di wadah bermandikan cahaya syurga
Agar kudapat menjadi Bidadari syurga nan jeli itu
Kadang bimbang...
Merayu senang..
Senang datang...
Duka belum tentu hilang..
Dan ternyata kini...
Kumasih..
Bimbang...
Jumat, 18 Januari 2008
A Red Rose



O, my love is like a red, red rose
That’s newly sprung in June
O, my love is like the melodie
That’s sweetly played in tune
As fair art thou, my bonny lass
So deep in love am I
Ad I will love thee still my clear
Till all the seas gang dry
Till all the seas gang dry, my dear
And the rocks melt with the sun
And I will love thee still, my dear
While the sands of life shall run
And fare thee well, my love only !
And fare thee well a while!
And I will come again my love
Tho’ it were ten thousands mile (s)
By : Robert Burns ( 1759-1796)