Tampilkan postingan dengan label Dunia Pena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Pena. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2009

Buku Terjemahan? Ada apa ya?





I Love Book edisi Ahad18 Oktober 2009 kemarin, menyajikan tema tentang “Buku Terjemahan”. Smoga aja notes ini bermanfaat ya buat teman-teman blogger dan fesbuker, wa bil khusus buat Akh Hamada yang meminta bahan siaran tadi di jadikan notes di Fesbuk. Tulisan ini bersumber dari majalah Annida Edisi 9/XVII/Mei 2008


Ada sebuah fakta yang dilansir oleh Litbang Ikatan penerbit Indonesia (IKAPI) yang mungkin mengejutkan bagi para pecinta buku : 55% buku yang menguasai pasar buku Indonesia adalah Karya terjemahan! Walau ini merupakan fakta keluaran tahun 2005, tapi ini bisa menjadi ukuran kasar untuk menggambarkan bagaimana digjayanya buku karya-karya penulis luar di negeri kita ini. Betul, kan sobat?

Litbang KOMPAS : dari total jumlah penduduk Indonesia (200 juta orang), penerbitan buku baru sekitar 0,00009 persen . It means sekitar 9 judul buku baru untuk 1 juta penduduk! It means! Dalam 1 tahun baru sekitar 10.000 judul buku , dengan tiras 20 juta eksemplar, yang terbit! Kasarnya lagi, 1 buku masih dibaca oleh 10 orang!



Yang mengejutkan, antusiasme masyarakat kita terhadap buku-buku terjemahan sudah berada pada stadium tinggi! Buku seperti Harry Potter dan The Lord of The Rings , misalnya. Mendapat sambutan yang luar biasa. Setiap seri barunya terbit, pemesanan sudah masuk jauh sebelum bukunya beredar.

Novel HP dan TLoTR memang mewakili produktivitas para penulis liar yang gila-gilaan. Selain itu, upaya eksploratif mereka terhadap tema-tema cerita juga luar biasa..

Runyamnya, situasi bisnis perbukuan di tanah air masih kuat dengan tabiat latah. Banyak penerbit yang mengikuti tren pasar tanpa pertimbangan, karena yang dibidiknya memang hanya keuntungan. Di ranah buku-buku terjemahan, yang dikeluhkan kualitas alih bahasanya, semata-mata karena sebuah tren yang diciptakan oleh sebuah buku terjemahan yang mengalami best seller. Novel Kitab Lupa dan Gelak Tawa (The book of laughter and Forgeting) karya Milan Kundera, mislanya. Novel yang berkisah tentang prilaku politik penguasa dan Cekoslovakia yang lalim ini, menyusun buku dan novel lain yang notabene karya masterpiece namun oleh hancur oleh penerjemahannya seperti The Purple Cow (Seth Godin), The Da Vinci Code (Dan Brown), atau The World is flat (Thomas L.Friedmen). Memang buku ini mendapat sambutan yang baik, tetapi pada saat yang sama juga mendapat serbuan keluhan karena kualitas penerjemahannya.

Keluhan umumnya mencakup masalah transliterasi pada bahasa sasaran (terjemahan sangat kaku), karena sekedar mengejar kemiripan arti, perbedaan versi terjemahan (beda penerbit, beda terjemahan), dan pembunuhan karakter dan gaya pengarang.

Kisruhnya dunia penerjemahan buku kita terjadi salah satunya karena kekeliruan orientasi dalam penerjemahan. Pada umumnya, dalam melakukan alih bahasa, penerjemah berorientasi pada pncarian makna yang sama persis terhadap bahasa sasaran.

Ada enam factor di luar teks yang ikut mempengaruhi proses penerjemahan.
1. Penulis teks
Penulis dalam berkarya dipengaruhi oleh latar belakang hidupnya (pendidikan, bacaan, budaya, afiliasi sosoal politik---Mungkin terhadap organisasi tertentu, keluarga,lingkungan)
2. Penerjemah
3. Pembaca
4. Norma bahasa yang berbeda antara bahasa sumber dan bahasa sasaran
5. Kebudayaan yang melatarbelakangi bahasa sasaran
6. Topik yang ditulis

Contoh kasus penerjemahan berorientasi kepada bahasa sasaran adalah alih bahasa yang dilakukan oleh William Weaver atas Pendolo di Foucault (1988)., novel karya Umberto Eco. Weaver menerjemahkannya dalam bahasa Inggris menjadi Foucault Pendulum. Dalam novel itu, Eco menggambarkan tokoh utamanya di sebuah perbukitan dengan mengutip sejak Giacomo Leopardi L’infinito “al di la della siepe, come osservava diotallevi”. Menurut Eco, bagi pembaca Inggris kutipan sajak itu menjadi kalimat asing karena mereka tidak tahu Diotalevi. Sementara pembaca Italia hafal luar biasa terhadap sajak ini, (sebagaimana orang Indonesia hafal sajak “Krawang Bekasi”-nya Chairil Anwar), akan langsung segera merasakan nuansa kampong yang dikelilingi bukit ketika membaca larik sajak itu. Dengan kepentingan bahasa sasaran, Weaver menghilangkan kutipan sajak itu dalam novel Eco versi terjemahannya.

So, siapa yang bertanggung jawab terhadap kualitas penerjemahan?

Tiga pihak penting, tak lain tak bukan adalah : Penerjemah, Editor dan Penerbit.

Penerjemah, bertanggung jawab terhadap upaya penerjemahan.

Editor, sebagai lapis kedua, seharusnya mem-back up hasil terjemahan sehingga kualitas terjemahan dapat dipertanggungjawabkan.

Dan terakhir, penerbit. Yang bertanggung jawab atas masalah terjemahan. Banyak fakta yang menunjukkan bahwa terbitnya karya terjemahan berkualitas buruk seringkali karena factor penerbit.

Minggu, 15 Februari 2009

Create a story telling story

Reading is fun. TV and video can be exciting. But creating your own stories is an adventure of discovery and learning that is more fun then any of these.
Creating storytelling stories is quite different from creating written stories. That’s because storytelling stories are different from written ones.
Written stories are always the same. You may read them many times, but the words will always be in the same order. One event will follow another. Storytelling stories are never the same. A storytelling story changes with each audience to appeal or adapt to those specific listeners.


For example, if you lost something on the way home from school, how would you describe the incident to your mother? Your teacher? Your best friend? Your sister or brother? Would one version vary depending on whom you were talking to?
Storytelling is like this. You might leave out some part one time or add others another time. Some parts, such as a repetitive line can always be the same, but each telling is different.


Three Important Secrets

There are three secret reasons why
each storytelling is different.

Who Will Listen?
Will you tell your story to kids your own age? Will they be friends or young people you haven’t met yet? Perhaps you will tell to younger kids. Or, will it be an audience of adults? Will it be just a couple people, a small group, or a large audience?

Why Are You Telling It?
There are many reasons for telling a story. Knowing why you are telling it may be the most helpful reason in adapting a story for a particular audience.
Many storytellers select tales just to entertain. They tell jokes, silly stories, or tall tales. Others want to teach something, such as how to be more considerate of animals, the environment, or other people. One storyteller likes to encourage his listeners to try new things. Some babysitters tell stories to help children not to be afraid of thunder, lightening or scary shadows in their rooms. Some tellers use personal stories to promote understanding of another culture. Others want to make people think or to help people remember. Some like to scare their audience with ghostly stories.

Where Will You Speak?
How you tell your story and what story helpers you use will depend on where you will be speaking? Will you be talking at one of your youth organizations, a parents’ night program, in your classroom, at a storytelling workshop, in a library storytelling program, while riding in a car or bus, at a family dinner, during a community fair, at a museum, at a storytelling festival, or during a religious program?


www.storycraft.com

Minggu, 21 Desember 2008

Catatan pernikahan Helvy Tiana Rosa

Critanya, kemaren malem after ngadirin resepsi Kak Ica sepupupuku (selamet ya k Ica), aku jalan-jalan ke Gramedia to hunting buku yang udah aku dan Meggie incer sejak dua minggu yang lalu. Sayang, budgetnya lagi kosong pada saat itu. Jadi, mumpung saat ini budgetnya ada, ya kukebut aja, gitu lho..hehehe.

Buku apa siy?? mpe segitunya??

Ni bukan sembarang buku. Dua nama yang begitu aku suka yakni duo kakak beradik Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia. Nah...buku terbaru Mbak Helvy yang kali ini jadi inceran kita.

Judulnya : CATATAN PERNIKAHAN (Aku tahu, aku hanya ingin menikahi jiwamu selalu) by Helvy Tiana Rosa.

Seperti biasa, bahasa yang begitu mengalir dan enerjik dipaparkan oleh Mbak Helvy ketika ia membuka lembar demi lembar kisah bahtera rumah tangganya. Judul-judul seperti "Januari Cinta", "Menolak bidadari", "selamat tidur, juara", "Pekerjaan bunda: memeluk!" dan masih banyak lagi bener-bener ngaduk-ngaduk prasaan kita slaku pembaca. Ada yang lucu, romantis, sedih, gemesin..dll dsb.

Namun bagian yang paling aku suka adalah, mbak Helvy menghiasi buku terbarunya ini dengan taburan puisi. Wow!! Ni dia yang bikin betah. Di awal-awal aja ada sebuah rangkaian kata yang begitu indah yang ia lukiskan buat sang suami, Tomi Satryatomo.

Kaya begini nih....

Ketika bahasa
tak lagi percaya pada kata
apakah yang masih bisa kita ucap?

:cinta

Ketika wajahmu
tak lagi menampakkan kening, mata,
hidung dan mulut
apakah yang masih bisa kukecup?
: do'a


Masih ada lagi!!

Simak, ya....ini puisi yang Mba Helvy tlis pada Januari 2006 yang lalu. Judulnya KANGEN

KANGEN
: suamiku
telah kutuliskan puisi-puisi itu
sejak usiamu 26 tahun

ketika pertama kali kita bertukar senyum

pada jarak pandang yang begitu dekat


Kau ingat,
saat kubisikkan mungkin aku tak perlu matahari
bulan, atau bintang lagi
cukup kau, cahaya yang Dia kirimkan untukku
Ah, apa kau masih menyimpan puisi-puisi itu?


Dua belas tahun kemudian
aku masih menikmati
mengirimmu puisi
hingga hari ini

aku pun menjelma hujan

yang enggan berhenti di berandamu

bersama angin yang selalu kasmaran


Kau tahu, aku masih saja menatapmu
dengan mataku yang dulu

lelaki sederhana berhati samudera

yang selalu membawaku berlabuh pada-Nya


Pada berkali masa, kau pernah berkata, :
"Aku tahu, Aku hanya ingin menikahi jiwamu selalu"

Subhanallah...TOP banget buat Mbak helvy. masih banyak puisi-puisi yang lain termasuk puisi dari Faiz, puteranya yang kini sudah berusia 12 tahun! Judulnya "Dari seorang anak, yang ayah dan ibunya akan bercerai"..huhuhuhu.....Faiz bisaa aja..

Pengen baca lebih jauhh?? beli aja. Kalo mo minjem tar ya karena saya blom selese bacanya..hehehehe


Sabtu, 21 Juni 2008

Apakah Menulis Puisi Gampang? Part 2


Banyak jalan menuju Roma. Beribu cara untuk menciptakan puisi. Salah satu kiat jitu yang kerap diakui (baik tua maupun muda dan pemula) adalah jatuh cinta. Bukankah orang yang sedang kasmaran gampang menulis puisi? Seperti puisi ”Surat Cinta” Rendra, berikut ini:

Engkau adalah putri duyung
T
ergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku.


Jadi, dengan menumpahkan isi hati di atas secarik kertas dengan kata-kata indah dan terpilih, tulisan akan menjelma puisi. Atau, silakan tulis surat cinta dengan kalimat-kalimat berbunga, dengan bentuk larik dan bait puisi, ya, dapat juga disebut puisi. Artinya, semakin sering jatuh cinta, tentu semakin terangsang untuk menulis puisi lebih banyak. Semakin banyak jatuh cinta, semakin banyak stock puisi yang akan tersedia. Semakin banyak rasa cinta kita kepada Allah SWT maka akan semakin banyak bentuk rasa syukur dan pujian kepada Allah yang kita goreskan dalam sebentuk pena. Ya namanya jatuh cinta tak harus kepada lawan jenis, sebagaimana yang sering terjadi di masa sekarang. Luapan rasa cinta kepada sahabat, guru, orang tua dan para orang-orang sholeh tentunya juga bisa terabadikan dalam goresan pena.


Berarti, puisi itu dapat dihasilkan oleh siapa pun, yang bukan penyair? Benar. Siapa pun boleh menulis puisi -- tidak sebatas penyair semata. Tidak ada syarat atau batasan tertentu untuk dapat menulis puisi. Pencopet, penodong, pedagang asongan, petani, polisi, politikus, penipu, penjudi, pengusaha menengah, bankir, konglomerat, pengamen, boleh menulis puisi, tak ada larangan atau kutukan. Tak perlu takut dan frustasi. Puisi itu bukan kuntilanak atau momok hitam yang menakutkan. Jadi, tulislah puisi semampu dan seluas jangkauan dan wawasan.

Jika puisi yang ditulis dinilai orang jelek, tak perlu berduka dan frustasi. Terus saja menulis puisi, meski belum memenuhi kaidah-kaidah puitis. Ciptakan terus, tanpa henti – toh masih ada hari esok menanti untuk puisi yang (mungkin) lebih baik. Sejelek apa pun puisi yang dibuat, kata Tardji, tetap saja puisi. Tetapi, silakan renungkan sendiri, termasuk kategori puisi apa? Puisi asal jadi? Puisi basi? Adakah berisi tanda? Atau sekadar corat-coret penumpahan isi hati?

Ingat, puisi bukan alat propaganda, bukan sarana pelepasan kegalauan, bukan pula tong sampah unek-unek.Meski bahasa puisi dan bukan puisi terasa cair; sesungguhnya puisi, sesederhana apa pun, harus penuh dengan ambiguitas dan homonim, penuh dengan asosiasi, memiliki fungsi ekspresif, menunjukkan nada dan sikap—mengutamakan tanda. Masalah ini dipertegas Rene Wellek & Austin Warren, bahasa puisi penuh pencitraan, dari yang paling sederhana sampai sistem mitologi (1993:20). Sementara Sapardi Djoko Damono memberi pengertian lebih sederhana, bahwa puisi adalah ”ingin mengatakan begini, tetapi dengan cara begitu.”

Jika demikian, puisi yang tidak dipenuhi tanda, belum layak disebut puisi? Ingat pendapat Tardji, tetap puisi. Tetapi puisi sesaat; sekali cecap langsung tak bermanfaat. Puisi donat. Seperti puisi yang dibuat anak kelas empat SD, tetap saja disebut puisi.


Itu pula alasan Tardji membagi puisi berdasarkan fungsinya. Jika seseorang menulis puisi untuk kebutuhan sesaat, ya, cuma sebatas itu manfaatnya.

Puisi itu akan segera tersapu angin dan hujan. Sebaliknya, jika puisi diciptakan berdasarkan perenungan mendalam, tanpa dipengaruhi kebutuhan apa pun, akan menjadi puisi sejati. Contohnya puisi-puisi Chairil Anwar. ”Maka, sangat disayangkan, bila ada penyair yang menulis puisi dengan memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu,” imbuhnya.


Sekilas pendapat ini bertentangan dengan kesimpulan Wellek & Warren, bahwa tipe-tipe puisi harus memakai paradoks, ambiguitas, pergeseran arti secara konstektual, asosiasi irasional, memperkental sumber bahasa sehari-hari, bahkan dengan sengaja membuat pelanggaran-pelanggaran. Tetapi, bila dicermati, pendapat Tardji lebih mudah dimengerti dan lebih menegaskan atas keluhan penyair-penyair muda, ”Ada juga puisi pesanan. Puisi yang ditulis oleh penyair untuk kebutuhan, momen atau acara tertentu dengan bayaran tertentu pula.”


Bertitik tolak dari pendapat ini, berarti menulis puisi teramat sulit-lit. Tidak cukup dengan mengamati peristiwa-peristiwa yang ada. Menulis puisi harus penuh perenungan, mendasar dan berdasar. Bahkan, terkadang harus mengalami trance. Apa yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, tidak serta merta dapat dijadikan puisi, melainkan harus dikaji, diendapkan, direnungkan secara mendalam. Untuk menulis sebuah puisi saja, sering penyair harus melalui proses sepekan, setahun, sepuluh tahun. Itu pula sebabnya, bila dibandingkan dengan karya seniman lain, sepertinya daya kreativitas penyair dalam berkarya sangat tertinggal jauh. Sebab, setiap penyair (sejati), meski telah berkarya secara maksimal seumur hidupnya, tak dapat menghasilkan seabrek puisi. Bahkan, tak sedikit penyair seumur hidupnya cuma mampu menulis beberapa puisi, misalnya Toto Sudarto Bachtiar, Subagio Sastrowardoyo, JS Tatengkeng.

Lalu, masihkah dapat disebut menulis puisi itu gampang? Ada yang menjawab, tergantung kata hati. Ada juga yang menyebut, tanyakan daun-daun yang berguguran. Bahkan, ada pendapat lebih ekstrem, tanyakan pejabat atau konglomerat yang getol bikin puisi, lalu menerbitkan seabrek buku puisi (persis album rekaman dangdut) dan membuat album dangdut puisi atau puisi dangdut yang dipasarkan door to door dengan pelbagai alasan sosial, kemanusiaan dan pengabdian. Ayo, siapa ikut bergoyang puisi?

Penulis adalah pekerja seni.

Apakah Menulis Puisi Gampang? Part 1


Browsing-browsing di suatu siang yang panas, ketemu dengan sebuah artikel bagus. Artikel ini ditulis oleh Maroeli Simbolon, S.Sn. Tanpa mengurangi rasa hormat, tulisan di blog ini sudah mengalami beberapa perubahan dan pengeditan, dengan judul yang sama dengan aslinya.

….bulan di atas kuburan…..

Demikian isi puisi ”Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisi sebaris, teramat pendek, dan sederhana yang menimbulkan polemik. Di antaranya, banyak bersuara nyinyir, ”Cuma sebegitukah menulis puisi? Sesederhana itukah puisi? Berarti, gampang menulis puisi -- tak perlu sampai ‘berdarah-darah’ dan samedhi.” Benarkah demikian?
Bagi penyair, puisi adalah kebanggaannya, aliran darahnya, pelepasan ekspresinya, kepribadiannya, ciri khasnya, napas hidupnya – bahkan, sarana mencari sesuap nasi. Penyair menjadi mati – disebut tak berkarya – jika tidak menulis puisi. Sekian banyak kredo yang disampaikan penyair untuk menguatkan puisi -- seperti kredo Sutan Takdir Alisyabana, Chairil Anwar, dan Sutardji Calzoum Bachri; dan bejibun arti yang dikemukakan para ahli mengenai puisi, tetapi bagi orang awam, puisi adalah puisi – barisan kata dan kalimat yang mempunyai bait, rima, irama, dan sebagainya. Artinya, puisi tidak sepenting doa atau kitab suci.

Suatu malam, di salah satu kafe di Taman Ismail Marzuki, Sutardji Calzoum Bachri membenarkan bahwa menulis puisi itu gampang. ”Bahkan, apa pun bisa ditulis jadi puisi,” katanya. Wah!

Sang maestro ini menjelaskan bahwa segala kejadian yang ada, baik di sekitar maupun jauh dari kita, dapat ditulis menjadi puisi. Juga, peristiwa yang terjadi sesaat, seperti tabrakan kereta, pesawat jatuh, bom meledak, bisa dijadikan puisi. Sebab, puisi tak jauh beda dengan tulisan-tulisan lainnya, seperti laporan wartawan atau berita yang tertulis di koran, mengenai politik, sosial, ekonomi, demonstrasi. ”Sehingga ada penyair yang cuma memanfaatkan peristiwa-peristiwa tertentu untuk menulis puisi,” katanya.

Banyak yang terkejut dan meragukan pendapatnya ini. Meski Tardji diakui sebagai presiden penyair, bukan berarti perkataan presiden adalah sabda atau firman – yang tidak ada salah atau cacatnya. Pernah, pada suatu kesempatan Sutardji Colzoum Bachri, menunjuk sepotong koran yang tergeletak di atas meja seraya menjelaskan bahwa berita-berita itu dapat menjadi puisi bila dibacakan dengan teknik puisi.

Serta merta salah seorang temannya tertarik, meraih koran itu dan membaca sepenggal beritanya, dengan artikulasi dan intonasi membaca puisi. Apa yang terjadi? Tardji tersenyum. Dan teman-teman senimannya memperhatikan dengan mangut-mangut. Merasa belum cukup, salah seorang itu membaca dua lembaran besar menu makanan dan minuman yang tergantung di dinding kafe itu dengan artikulasi dan intonasi yang sama dalam pembacaan puisi:

Nasi Goreng Es Campur
Pecel Lele Wedang Jahe
Soto Babat Es Jeruk
Ikan Bakar Kopi Susu
Sate Kambing Jus Nenas

Mendengar itu, Tardji tertawa. Dan teman-teman seniman bertepuk tangan.

IF..ada lho penyair 2 muda, seperti Yonathan Rahardjo, yang sering menulis puisi dengan memasukkan jenis-jenis makanan dan minuman masyarakat kita sehari-hari, seperti ketupat, lepat, peyek, bandrek, pisang goreng.

Lebih ekstrem lagi alm. Saut Sitompul, berhasil menulis apa pun jadi puisi, bahkan menganjurkannya. Seperti isi salah satu puisinya:
ada daun jatuh, tulis/ada belalang terbang, tulis…

Jadi, benarkah segala sesuatu (persoalan) dapat dijadikan puisi? Tak perlukah bersusah payah menulis puisi? Tak perlukah merenung di gunung dan berpuasa setahun untuk membuat puisi? Tak perlukah perenungan, pendalaman dan pemadatan makna?
Tergantung pencipta puisi itu sendiri. Tetapi, siapa yang keberatan, jika apa saja yang dilihat, didengar, dirasa, dialami, lalu ditulis dengan bentuk puisi, lalu dinobatkan sebagai puisi? Jika semua masalah ditulis dengan berbentuk bait puisi, adakah yang melarang? Itu hak asasi seseorang. Hak berpendapat. Hak berekspresi. Hak berkarya. Bila akhirnya puisi yang dihasilkan itu dianggap tak berguna, ya, terserah. Jika pun orang-orang menganggap rada gila, ya, biarkan saja. Bukankah penyair besar sering bertingkah aneh-aneh, misalnya mabok bir, bawa kapak, buka baju dan bergulingan di atas panggung kala baca puisi? Lagi pula, entah apa dasar hukumnya, untuk dapat diakui penyair, seseorang harus berani bertindak rada gila; seperti teriak-teriak di keramaian, baca puisi di atas pohon? Semuanya demi puisi, demi puisi. Demikian anehkah puisi?..

(to be continued.....)


Senin, 14 Januari 2008

Mata penamu : Don't be out of order!




Pernah dengar bait nasyid berikut ?

“Kami adalah mata pena yang tajam..
Yang siap menuliskan kebenaran…
Tanpa ragu ungkapkan keadilan…”

Hmm….terdengar idealis memang.

Berbicara masalah media, maka tak berlebihan jika saya membuka lembaran ini dengan sebuah lantunan bait diatas. Karena media berelasi sangat dekat dengan pena.
Bacaan. Tulisan.


Di sebuah pelatihan kehumasan mengenai teknik propaganda saya terperangah, ketika pemateri memberikan sebuah pencerahan baru. Tentunya kita sudah tahu, surat yang pertama di turunkan Allah kepada Baginda Muhammad adalah Surat Al-‘alaq, dengan ayat pembuka dimana Allah memberikan sebuah komando : ”Iqra’…..Bacalah..”. Berikutnya? Tahukan anda surat apa yang Allah turunkan setelah perintah membaca tadi ? Surat Al-Qalam. Menulis! Yup…betapa indah dan rapinya perintah tersebut.

Membacalah..kemudian menulislah! Ternyata dua aktivitas ini merupakan kunci ganda yang mampu memajukan sebuah peradaban! SubhanalLah….Pantas saja peradaban kita belum menyemburatkan sebuah cahaya yang benar-benar menerangi jagad raya. Peradaban Islam belum lagi menampakkan pesonanya dengan sebenar-benarnya “penampakan”, karena kita selaku umat Islam masih menomor sekiankan media! Padahal bisa jadi media merupakan sarana paling efektif (cepat terakses) dan efisien (murah) untuk kita jadikan samurai dakwah.
Berkaca dari sejarah,hanya dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari sebuah komunitas jahiliyyah yang keji di semenanjung Arabia, mampu menjelma menjadi sebuah masyarakat yang mengusung peradaban manusia baru dibawah naungan Islam. Tentu saja perubahan akbar ini dimulai dengan perintah membaca (QS.Al-‘Alaq [95] : 1-5) tadi.


Sahabatku sekalian,
Ada baiknya kita juga menengok dan merenung sejenak kepada media barat. Tidak dapat dipungkiri, Barat dengan segala fasilitas dan kekuatannya, telah mampu menancapkan kuku-kuku kekuasaanya melalui media pers.
Mereka mampu mengglobalkan nilai-nilai dan institusinya ke seluruh pelosok-pelosok dunia. Jadi jangan heran jika gaung superioritas mereka menggema dimana-mana. Bahkan kekuatan bahasa—dalam hal ini bahasa Inggris—berhasil dilegalkan sebagai bahasa internasional. Bayangkan! Dari 3.000 bahasa yang ada di bumi Allah ini,
bahasa Inggris lah yang menjadi bahasa kehormatan untuk di jadikan bahasa dunia. Tanya kenapa! Apakah karena ia merupakan bahasa yang paling banyak di gunakan di dunia? Nope! Tidak juga. Seorang professor dari Universitas Onomichi, Hiroshima ; Toshiyuki Takagaki, melakukan serangkaian riset pada TESOL dan billingualistik di Jepang,
Amerika dan kanada dengan membuat daftar “The Top Ten Most Commonly Spoken Languages”.

Hasilnya? Bahasa Mandarinlah yang menempati urutan pertama sebagai bahasa yang paling banyak dipakai di dunia dengan jumlah 1 Milyar number of speaker. Sedangkan bahasa Inggris sendiri menempati urutan kedua,dengan number of speaker : 508 juta orang di susul dengan bahasa Hindustan 497 juta.

Lalu…Mengapa bahasa inggris menjadi bahasa dunia?
Padahal bukan merupakan bahasa yang paling banyak dipakai?

Jawabannya adalah,bukan karena ia sebagai bahasa yang lebih hebat secara linguistik dibanding bahasa-bahasa yang lain, akan tetapi karena : Kerajaan Inggris dan Amerika Serikat secara politik,militer dan ekonomi memiliki kekuatan yang sangat dahsyat selama 200 tahun terakhir di jagad ini! (Crystal :1997).

Dan mereka adalah dua negara adidaya yang menjadi native speaker dari bahasa Inggris.
Jadi dengan kekuatan-kekuatan itulah,Barat mampu memainkan perang tanpa peluru. Cukup bermain di media.Dunia digenggamnya.

Mungkin sebuah solusi walaupun hanya secara implisit dapat saya paparkan disini.Terinspirasi oleh tulisan seorang al-akh,staf HUMAS KAMMI daerah Purwokerto. Beliau mengajak kita semua, menghadirkan dan memasarkan dakwah secara lebih professional, cerdas dan modern!

Bayangkan..orang-orang di luar wilayah dakwah saja senatiasa melakukan inovasi-inovasi baru yang strategis dan canggih dalam pekerjaannya yang berorientasi dan bervisi keduniaan. Nah! bagaimana dengan ane dan antum,yang sudah faham akan makna ‘tijarah’/perniagaan yang kita semua yakini sebagai bisnis yang elit, prestisius dan profitable dengan Allah? Kenapa harus kalah canggih dengan mereka ?

Bahasa yang pernah ane pakai ketika DM2 kemarin adalah : “Jangan pernah lagi mau menjadi da’i-da’i tradisional…”.Buat sesuatu yang baru dan fenomenal..!
Sekali lagi,ada masanya kelak kita akan benar-benar harus memberikan perhatian penuh kepada media sebagai sarana dakwah. Bahkan kalo boleh usul, ayo kita sediakan budget yang layak untuk media! (Sayalah orang yang pertama kali akan bertakbir jika usul ini diterima!). Baik itu media sejenis Iqro’, Hamasah, Ruhul Jahid, atau dalam bentuk yang lain. Karena bukan tidak mungkin,keberadaan media-media ini nantinya tidak hanya sebagai konsumsi ‘kalangan sendiri’,tapi ke depannya mampu menjadi media yang strategis bermain di lini-lini di luar lingkungan internal KAMMI.
Mungkin, tulisan dari Hernowo, yang mengutip pernyataan heinrich Bowl berikut ini dapat memotivasi kita kembali untuk berkomitmen menjadi jundi yang mampu menjelma menjadi penggenggam mata pena dakwah :
“Di belakang tiap kata berdiri suatu dunia,tiap orang yang menggunakan kata harus menyadari bahwa ia menggoyang dunia..”
Sahabatku..


Revolusi-revolusi besar di dunia, senantiasa di mulai oleh jejak pena dari seorang penulis.

Revolusi Prancis bergerak di bawah cahaya pemikiran dan pandangan yang dirintiskan oleh J.J.Rousseu dan Montesquieu.Revolusi Rusia dan perjuangan kaum Komunis di seluruh dunia di pimpin oleh “Comunistisch Manifest” karya Marx dan Engels.Nazi jerman bergerak di bawah petunjuk buku mein Kampf buah tangan Hitler.Revolusi Tiongkok berpedoman kepada San Min Chu I karangan Sun Yat Sen.
Jadi…mungkin ngga yaa shohwah islamiyah ( kebangkitan islam ) hadir kembali menyemburatkan fajar yang menghangatkan kaum muslimin melalui media pena?
Jawabannya,
Kenapa tidak ?

Wallahu’alam bi showab…….

*Out of Order : Rusak/sudah tidak terpakai lagi.